Hatmiati’s Weblog

Menulis adalah hobyku, berarti ini adalah blog kumpulan tulisanku

CINTA ITU LUKA

“Jadi? Kita selingkuh, ya, Pak?” Mareta bertanya bingung.
Lelaki awal empat puluhan itu tersenyum. Ditatapnya Mareta dengan sayang.
“Tidak.”
“Terus?”
“Saya memang suka sekali denganmu. Sayang. Cinta. Tetapi, saya tidak akan mengajakmu selingkuh.”
“Jadi?”
“Saya cuma menyampaikan perasaan yang saya punya untukmu. Perasaan yang telah saya pendam sekian lama.”
“Sekian lama? Sejak kapan?”
“Saya juga tidak tahu sejak kapan. Yang jelas, perasaan yang kupunya ini mengalir begitu saja.”
“Mungkin karena saya berbeda dengan istri bapak.”
“Bukan, Mareta.”
“Lalu karena apa?”
“Karena saya merasa cocok denganmu.”
“Lho! Bukankah selama ini bapak juga sudah cocok dengan ibu.”
“Entahlah, Mareta. Susah, saya menjawabnya.”
“Saya malah tambah bingung.”
“Jangan dipikirkan, Mareta. Saya cuma ingin kamu tahu saja bahwa saya telah mencintaimu selama ini. Dan, saya siap seandainya kamu marah dengan perasaan yang saya punya untukmu. Kamu boleh memaki-maki saya, tetapi tolong pahami bahwa perasaan ini tulus untukmu.”
“Apakah karena saya cantik atau karena saya pintar?”
“Saya tidak mencintai kecantikanmu. Saya juga tidak mencintai kepintaranmu, tetapi saya mencintaimu apa adanya.”
“Benarkah?”
“Iya, Mareta. Seandainya saya mencintaimu karena kecantikan, maka saya tidak akan memilihmu karena suatu ketika kecantikanmu akan pudar. Seandainya saya mencintaimu karena kepintaranmu, maka saya tidak akan memilihmu karena suatu saat nanti kamu pasti membodohiku.” Baca selebihnya »

Mei 6, 2009 Ditulis oleh hatmiati | 1 | | & Komentar

CINTA MATI

CINTA MATI
Hatmiati Masy’ud

File 1
Melewati batasan harapan
Adalah buah ketidakpercayaan
Nasib ini punya aku sendiri
Tapi kecewa tak bisa kuukir dengan kata-kata

Entahlah…apakah masih kupunya cinta
Sedang kini telah kukubur segala waktu yang kupunya
Aku lelah bertarung…lelah dalam kerangkeng takdir tak terbaca
Biarlah pasrah mewakili hati putih yang terluka
Karena hasrat zaman tak terjamah

File 2
Susahnya memaknai cinta yang hadir tanpa diminta
Perih…serupa sembilu luka
Memanjang dalam setiap lorong ketakberdayaan
Cinta menyerah…kalah
Tersungkur di altar kepasrahan

File 3
Janji langit membahana
Mengoyak semesta samudera hati
Nyanyian para bidadari terhenti
Angin tak sempat mampir ke muara
Mestinya rindu ini harus bersahaja

Tak kurang kupahami isyarat
Tersamar dalam wajah-wajah musim
Menggeletar, memaksaku bersujud
Nasib ini, adakah kupunya kuasa
Kehendakku tak bisa kutunaikan

File 4
Telah kutuntaskan segala hasrat
Besok entah waktu apa yang kupunya
Meniti jalan ini membuat luka cinta berdarah
Parah sampai ke sum-sum
Gigil tak sempat lagi termaknai
Biarlah jejak ini paripurna
Meskipun harus ditukar dengan lara

Februari 5, 2009 Ditulis oleh hatmiati | 1 | | & Komentar

Bukan Sekedar Cinta (Part 3)

PART 3
Berkali-kali panggilan itu terdengar, bahkan gedoran di pintu kamarnya. Alina tetap sesegukkan dengan tangisnya. Tetapi, kemudian dia bergerak pelan membuka pintu. Bundanya menerobos masuk.
“Al, sudah sayang, kita harus ke rumah sakit Ulin sekarang.” Ibunya memeluknya erat. Alina terkesima, dia bingung, sambil berjalan dalam pelukan ibunya, Alina masih tidak mengerti yang terjadi. Sesampainya di rumah sakit, Alina baru sadar rombongan pengantin lelakinya telah kecelakaan.
“Di mana Bram, Bu? Bagaimana keadaannya?” Alina bertanya sambil menangis. Di ujung lorong rumah sakit, dokter yang berjalan tegesa-gesa berhenti di dekat Alina.
“Menanyakan siapa Bu?”
“Bram, Dok, rombongan pengantin yang kecelakaan di jalan Samudera.” Ibu Alina menyahut.
“Oh itu, di kamar 21 Melati, Bu.” Dokter itu berlalu.
Alina setengah berlari ke kamar itu, ketika sampai dia terpaku menyaksikan Bram dan Santi di ruang itu. Dengan muka sepucat mayat Alina menghampiri ranjang Bram dan Santi yang berdampingan. Pengantinnya dan istrinya sekarat, Alina tak sempat berpikir, dia menggenggam tangan keduanya, sambil menangis tanpa suara. Alina ditarik ibunya keluar kamar. Bram dan istrinya akan segera di operasi. Tiga jam lebih Alina menunggu. Air matanya seperti tak mau berhenti mengalir. Di ujung keputusasaan menunggu, ruang UGD terbuka. Para dokter yang menanganinya keluar.
“Siapa keluarga pasien? Ikuti saya ke ruangan.” Dokter itu kemudian berjalan menuju ruangannya. Salah seorang keluarga Bram mengikuti dokter.
Setengah jam kemudian, Bram terdengar merintih. Bibirnya komat-kamit menyebut nama Alina. Perawat yang menjaganya kemudian memanggil Alina. Di ruangan itu, Alina terguguk di samping Bram. Tak ada kata yang mampu keluar dari mulutnya. Menatap Bram dalam balutan perban-perban putih, membuat Alina seperti bercanda dengan maut.
“Al, maukah menjaga Faisal untukku?” Bram berbisik lirih. Alina mengangguk cepat. Diletakkannya telunjuknya di bibir Bram. Sesaat kemudian, Bram pergi menemui Penciptanya. Setengah jam setelah itu, Santi yang dalam keadaan koma menyusulnya. Lelangut kesedihan mengepung Alina dari segala penjuru, dia merasa pandangannya gelap. Dia baru sadar keesokan harinya. Di rumah sakit yang sama dengan Bram dan Santi. Mereka telah mendahuluinya. Alina bangkit dari tempat tidurnya, dilihatnya bunda dan bapaknya di samping tempat tidur. Sementara itu, beberapa orang keluarga Bram yang ikut dalam rombongan pengantin hanya menderita luka-luka dan sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan tiga orang lainnya masih dalam perawatan dokter, termasuk sopir yang masih dalam keadaan tidak sadar.
“Bu, bagaimana keadaan Faisal?” Alina bertanya lemah.
“Alhamdulillah, Faisal berhasil diselamatkan. Sekarang masih dalam perawatan dokter, tetapi sudah boleh ditengok.”
“Bu, aku mau menemui Faisal, aku ingin menemuinya.” Kali ini Alina menangis sekeras-kerasnya.
“Iya sayang, sabar, nanti kita akan ke kamar Faisal.” Ibunya merangkulnya erat. Kepedihan berbaur dengan aroma duka.
Senja mulai merapatkan jalanya ketika Alina dan ibunya berada di rumah Bram. Rumah yang penuh orang-orang yang melayat dan bertakziah atas kematian suami istri yang baik itu. Alina membisu, tak sepatah kata terlontar dari lisannya. Hanya air mata yang jatuh satu-satu di surah Yasin yang dibacanya. Selepas sholat Magrib, Alina dan ibunya meninggalkan rumah Bram. Alina berpisah dengan ibunya, dia ke rumah sakit, menemani Faisal, sedangkan ibunya kembali ke rumah, membereskan keadaan rumahnya. Alina juga tidak sempat bertemu Sabina hari ini. Sesampainya di rumah sakit, di kamar Faisal, Alina terpaku memandang bocah berusia lima tahun itu. Hatinya nyeri membayangkan Faisal yang kini yatim piatu. Pelan dibelainya rambut Faisal, kasihnya menyeruak tanpa tercegah. Tengah malam Faisal terbangun kesakitan, suara erangannya membuat Alina terkejut, kantuk yang menyerangnya lenyap entah ke mana. Dipeluknya Faisal dengan sayang, tak lama bocah itu kembali terlelap.
Tujuh hari di rumah sakit, tubuh Alina menyusut, kulitnya pucat, tetapi matanya berseri-seri laksana matahari di ufuk timur. Kedekatannya dengan Faisal telah mengalirkan adrenalin dalam sel tubuhnya. Faisal, Faisal yang telah diizinkan keluarganya tinggal dengan Alina, sesuai dengan amanat Bram. Diterimanya anak itu dengan segenap kasih yang dia punya. “Jagoanku”, kata Alina giris. “Bram dan Santi telah meninggalkannya untukku, aku akan merawatnya. Kini hidupku telah lengkap, aku sudah punya perempuan, Sabina, dan Faisal lelakinya, aku tak perlu orang lain lagi”, pikirnya. Alina pulang ke rumahnya di hari kesembilan, bersama Faisal yang disambut Sabina dengan suka cita.
Setelah peringatan seratus hari kematian Bram dan Santi, Alina dan kedua bocah terkasihnya pergi ke makam Bram dan Santi, mereka berziarah sekaligus berpamitan untuk kembali ke tempat tugas Alina. “Izinkan Faisal bersamaku, menggantikan dirimu Bram”, bisik Alina lirih.
“Mama, di sini bunda dan ayahku ya? Mereka ngapain mama? Kok tidul ditimbun tanah begini?” Suara cadel Faisal memecahkan suasana sepi. Belum sempat Alina menjawab, tiba-tiba, bocah itu menjatuhkan diri di antara makam ayah dan ibunya. Menangis dengan keras. Alina tersentak. Cepat diangkatnya Faisal.
“Sayang, sudah ya Sayang. Ayah sama Bunda pasti sedih kalau melihatmu menangis. Ayah sama Bunda sudah berada di surga. Mereka sayang sekali dengan Faisal. Sekarang Faisal ikut Mama Alin aja, sama Kakak Sabina juga, ya?”
Bocah lelaki itu mengangguk.
“Tapi, nanti kita ke sini lagi kan Ma?” Cepat Alina mengangguk. airmata mulai mengalir lagi di pipi Faisal. Alina menahan nyeri di hatinya. Cepat diraihnya tangan Sabina. Mengajaknya berlalu.
Matahari naik sepenggalahan membentuk siluet tiga tubuh yang meninggalkan kompleks pemakaman. Jauh dan semakin jauh.
***

Menjelang dinihari, Peb ‘09

Batimung: Mandi sauna dengan uap rempah-rempah.

Februari 5, 2009 Ditulis oleh hatmiati | 1 | | & Komentar

Bukan Sekedar Cinta

PART 3
Berkali-kali panggilan itu terdengar, bahkan gedoran di pintu kamarnya. Alina tetap sesegukkan dengan tangisnya. Tetapi, kemudian dia bergerak pelan membuka pintu. Bundanya menerobos masuk.
“Al, sudah sayang, kita harus ke rumah sakit Ulin sekarang.” Ibunya memeluknya erat. Alina terkesima, dia bingung, sambil berjalan dalam pelukan ibunya, Alina masih tidak mengerti yang terjadi. Sesampainya di rumah sakit, Alina baru sadar rombongan pengantin lelakinya telah kecelakaan.
“Di mana Bram, Bu? Bagaimana keadaannya?” Alina bertanya sambil menangis. Di ujung lorong rumah sakit, dokter yang berjalan tegesa-gesa berhenti di dekat Alina.
“Menanyakan siapa Bu?”
“Bram, Dok, rombongan pengantin yang kecelakaan di jalan Samudera.” Ibu Alina menyahut.
“Oh itu, di kamar 21 Melati, Bu.” Dokter itu berlalu.
Alina setengah berlari ke kamar itu, ketika sampai dia terpaku menyaksikan Bram dan Santi di ruang itu. Dengan muka sepucat mayat Alina menghampiri ranjang Bram dan Santi yang berdampingan. Pengantinnya dan istrinya sekarat, Alina tak sempat berpikir, dia menggenggam tangan keduanya, sambil menangis tanpa suara. Alina ditarik ibunya keluar kamar. Bram dan istrinya akan segera di operasi. Tiga jam lebih Alina menunggu. Air matanya seperti tak mau berhenti mengalir. Di ujung keputusasaan menunggu, ruang UGD terbuka. Para dokter yang menanganinya keluar.
“Siapa keluarga pasien? Ikuti saya ke ruangan.” Dokter itu kemudian berjalan menuju ruangannya. Salah seorang keluarga Bram mengikuti dokter.
Setengah jam kemudian, Bram terdengar merintih. Bibirnya komat-kamit menyebut nama Alina. Perawat yang menjaganya kemudian memanggil Alina. Di ruangan itu, Alina terguguk di samping Bram. Tak ada kata yang mampu keluar dari mulutnya. Menatap Bram dalam balutan perban-perban putih, membuat Alina seperti bercanda dengan maut.
“Al, maukah menjaga Faisal untukku?” Bram berbisik lirih. Alina mengangguk cepat. Diletakkannya telunjuknya di bibir Bram. Sesaat kemudian, Bram pergi menemui Penciptanya. Setengah jam setelah itu, Santi yang dalam keadaan koma menyusulnya. Lelangut kesedihan mengepung Alina dari segala penjuru, dia merasa pandangannya gelap. Dia baru sadar keesokan harinya. Di rumah sakit yang sama dengan Bram dan Santi. Mereka telah mendahuluinya. Alina bangkit dari tempat tidurnya, dilihatnya bunda dan bapaknya di samping tempat tidur. Sementara itu, beberapa orang keluarga Bram yang ikut dalam rombongan pengantin hanya menderita luka-luka dan sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan tiga orang lainnya masih dalam perawatan dokter, termasuk sopir yang masih dalam keadaan tidak sadar.
“Bu, bagaimana keadaan Faisal?” Alina bertanya lemah.
“Alhamdulillah, Faisal berhasil diselamatkan. Sekarang masih dalam perawatan dokter, tetapi sudah boleh ditengok.”
“Bu, aku mau menemui Faisal, aku ingin menemuinya.” Kali ini Alina menangis sekeras-kerasnya.
“Iya sayang, sabar, nanti kita akan ke kamar Faisal.” Ibunya merangkulnya erat. Kepedihan berbaur dengan aroma duka.
Senja mulai merapatkan jalanya ketika Alina dan ibunya berada di rumah Bram. Rumah yang penuh orang-orang yang melayat dan bertakziah atas kematian suami istri yang baik itu. Alina membisu, tak sepatah kata terlontar dari lisannya. Hanya air mata yang jatuh satu-satu di surah Yasin yang dibacanya. Selepas sholat Magrib, Alina dan ibunya meninggalkan rumah Bram. Alina berpisah dengan ibunya, dia ke rumah sakit, menemani Faisal, sedangkan ibunya kembali ke rumah, membereskan keadaan rumahnya. Alina juga tidak sempat bertemu Sabina hari ini. Sesampainya di rumah sakit, di kamar Faisal, Alina terpaku memandang bocah berusia lima tahun itu. Hatinya nyeri membayangkan Faisal yang kini yatim piatu. Pelan dibelainya rambut Faisal, kasihnya menyeruak tanpa tercegah. Tengah malam Faisal terbangun kesakitan, suara erangannya membuat Alina terkejut, kantuk yang menyerangnya lenyap entah ke mana. Dipeluknya Faisal dengan sayang, tak lama bocah itu kembali terlelap.
Tujuh hari di rumah sakit, tubuh Alina menyusut, kulitnya pucat, tetapi matanya berseri-seri laksana matahari di ufuk timur. Kedekatannya dengan Faisal telah mengalirkan adrenalin dalam sel tubuhnya. Faisal, Faisal yang telah diizinkan keluarganya tinggal dengan Alina, sesuai dengan amanat Bram. Diterimanya anak itu dengan segenap kasih yang dia punya. “Jagoanku”, kata Alina giris. “Bram dan Santi telah meninggalkannya untukku, aku akan merawatnya. Kini hidupku telah lengkap, aku sudah punya perempuan, Sabina, dan Faisal lelakinya, aku tak perlu orang lain lagi”, pikirnya. Alina pulang ke rumahnya di hari kesembilan, bersama Faisal yang disambut Sabina dengan suka cita.
Setelah peringatan seratus hari kematian Bram dan Santi, Alina dan kedua bocah terkasihnya pergi ke makam Bram dan Santi, mereka berziarah sekaligus berpamitan untuk kembali ke tempat tugas Alina. “Izinkan Faisal bersamaku, menggantikan dirimu Bram”, bisik Alina lirih.
“Mama, di sini bunda dan ayahku ya? Mereka ngapain mama? Kok tidul ditimbun tanah begini?” Suara cadel Faisal memecahkan suasana sepi. Belum sempat Alina menjawab, tiba-tiba, bocah itu menjatuhkan diri di antara makam ayah dan ibunya. Menangis dengan keras. Alina tersentak. Cepat diangkatnya Faisal.
“Sayang, sudah ya Sayang. Ayah sama Bunda pasti sedih kalau melihatmu menangis. Ayah sama Bunda sudah berada di surga. Mereka sayang sekali dengan Faisal. Sekarang Faisal ikut Mama Alin aja, sama Kakak Sabina juga, ya?”
Bocah lelaki itu mengangguk.
“Tapi, nanti kita ke sini lagi kan Ma?” Cepat Alina mengangguk. airmata mulai mengalir lagi di pipi Faisal. Alina menahan nyeri di hatinya. Cepat diraihnya tangan Sabina. Mengajaknya berlalu.
Matahari naik sepenggalahan membentuk siluet tiga tubuh yang meninggalkan kompleks pemakaman. Jauh dan semakin jauh.
***

Menjelang dinihari, Peb 2009

Batimung: Mandi sauna dengan uap rempah-rempah.

Februari 5, 2009 Ditulis oleh hatmiati | 1 | | 1 Komentar

Amuntai, Banjir lagi…

Amuntai, kota yang terkenal dengan slogan Kota Bertakwa kini banjir lagi…kalau dihitung-hitung ini sudah yang keempat kali. Memang banjir ini merupakan banjir kiriman dari kabupaten Tabalong dan Balangan, tetapi tak ada salahnya kalau pemerintah daerah dan masyarakat mulai memikirkan alternatif untuk meminimalkan banjir yang selalu terjadi setiap tahun.

Banjir di Amuntai tidak hanya menyebabkan rumah dan persawahan terendam, banjir juga mengganggu transportasi bahkan menyebabkan korban jiwa.

Ada beberapa alternatif yang mungkin dillakukan pemda dan masyarakat…teman-teman punya saran???

Januari 28, 2009 Ditulis oleh hatmiati | 1 | | & Komentar

BUKAN SEKEDAR CINTA (part 2)

PART 2

Sabina belum genap empat puluh hari, ketika Mahesa mulai sering pulang larut malam, mulai sering memainkan tangan hanya karena masalah sepele. Kehidupan rumah tangganya memang pahit untuk dikunyah. Tetapi, Alina bertahan, demi Sabina, curahan jiwa satu-satunya. Meskipun untuk itu, dia harus membagi kehidupannya dengan tangis, melewati musim demi musim dengan payah.

Sepanjang saat Alina berdoa untuk Mahesa agar berubah dan menjadi lebih baik. Namun Mahesa, lelaki yang dinikahinya tetap tak pernah berubah, perempuan silih berganti datang ke rumahnya. Dia semakin jauh dari keluarga, semakin tidak peduli apakah anak dan istrinya makan atau tidak, dan semakin sering tidak pulang. Tak jarang Alina dengan Sabina di gendongan mencari Mahesa, untuk menyuruhnya pulang, tetapi yang didapati Mahesa yang sedang berangkulan mesra dengan teman wanitanya.

Alina mulai tidak tahan, namun setiap melihat Sabina kemarahannya meruap entah ke mana. Dia semakin tertempa oleh keadaan yang dialaminya, dia makin liat, dan semakin tertantang untuk membuktikan bahwa dia mampu bertahan. Demi Sabina dia bekerja seperti mesin, mencari lembaran-lembaran rupiah yang tak pernah lagi diberikan oleh Mahesa. Hanya dengan menjadi orang yang tidak peduli sekeliling dia mampu berdamai dengan perasaannya.

Alina memang tidak pernah menyadari kalau Mahesa menikahinya hanya pelarian cintanya yang tidak kesampaian. Mahesa tidak pernah benar-benar mencintai Alina, Mahesa menemukan gadis itu dalam pengejarannya terhadap Hana, gadis yang dicintainya di Jogya, Hana yang kemudian ditemukannya telah menikah. Mahesa, seperti menaburkan garam di luka hatinya yang semakin berdarah. Dan, Alina gadis berwajah manis dan doyan berdebat itu menjadi sasarannya. Dinikahinya Alina setelah tiga puluh hari mengenalnya. Dia sadar, dia salah, tetapi dia harus mampu membuktikan bahwa dengan atau tanpa Hana pun dia mampu bertahan dan menikah.

Namun, Mahesa semakin didera perasaan bersalah ketika dia tidak mampu memberikan nafkah yang cukup, terlebih ketika Sabina lahir. Mahesa semakin larut dalam ketakmampuannya, kuliahnya gagal, pekerjaannya di sebuah perusahaan swasta berantakan. Dalam setiap perjalanan hidupnya, tak pernah dia bisa melupakan Hana, semakin keras dia berusaha melupakan Hana, wanita itu justru semakin jelas hadir dalam ingatannya. Saat dia menatap Alina dan Sabina yang terlelap, hanya airmata yang menetes satu-satu yang menggambarkan kegundahan hatinya, dia sadar tak ada yang mampu diberikannya untuk Alina dan Sabina, dia hanya menyakiti mereka. Akhirnya, Mahesa justru sering tidak pulang ke rumah, dia lebih suka tidur di rumah teman-temannya atau meluapkan perasaannya pada gadis-gadis yang singgah sesaat-sesaat. Baca selebihnya »

Januari 15, 2009 Ditulis oleh hatmiati | prosa | , , , | & Komentar

BUKAN SEKEDAR CINTA (part 1)

BUKAN SEKEDAR CINTA

Cerpen ini terinsiprasi dari keteguhan hati seorang perempuan yang rela membagi cinta suaminya dengan orang lain. Ada satu hal mendasar, bahwa dalam kehidupan ini, ternyata yang kita hadapi bukan hanya masalah cinta hitam putih. Tetapi, bagaimana kita memaknai hidup agar menjadi lebih berarti dan tidak pernah menghujat jalan hidup yang telah ditakdirkan Tuhan terhadap kita. Tugas kita hanya berusaha dan berdoa, tetapi hasil akhir selalu ditentukan oleh Yang mahakuasa.

 

PART 1

Alina menatap gamis biru laut dengan kembang-kembang putih itu, dia tersenyum sendiri. Terbayang seminggu lagi dia akan menikah. Tetapi dengan orang yang tak pernah terlintas dalam benaknya. Orang yang justru menyaksikan perjalanan nasib memainkannya. Dan kini, dia ingin turut bermain di dalamnya. Alina memang menyambut uluran kasih itu, tidak dengan suka cita memang, tetapi sempat memercikkan secercah bahagia di mimpinya.

Dua hari sebelum pernikahan. Rumah Alina terlihat semarak, beraneka macam kembang mewarnainya, ditambah rangkaian janur kuning yang melambai-lambai di tepi jalan. Semarak, indah, dan meriah.

Di ruang keluarga, Alina dikelilingi teman-temannya, mereka sibuk melulur tubuh Alina dengan lulur berwarna merah pekat, kuning kental, dan asam jawa. Alina memasrahkan tubuhnya, namun di matanya yang berkabut terlihat jelas pikirannya tak berada di tempatnya. Cekikikan teman-temannya yang berusaha mencandainya tak terekam dalam memori otaknya. Kintan menjawil hidungnya.

“Al, kamu kenapa sih, dari tadi bengong aja? Ini kan hari bahagiamu.”

“Oh, eh, nggak apa-apa. Aku, aku cuma lagi menikmati luluran kalian aja.” Alina tergagap menjawab.

“Jangan bohong Al, kami tau kok kamu menyembunyikan sesuatu. Ada apa sih, sama teman sendiri jangan rahasia-rahasian.” Ratna menatap Alina tajam.

Alina terdiam sejenak, dia tahu merahasiakan sesuatu dari teman-temannya hanya akan membuat mereka semakin penasaran. Tetapi, saat ini bukan waktu yang tepat untuk berterus terang, Alina lebih memilih bungkam.

Senja mulai beranjak pulang, Alina memaku diri di tepi jendala. “Dua hari lagi,” pikirnya galau. Alina menatap keremangan senja yang membius dan mengantarkannya pada sebersit ingatan tentang calon suaminya. Mendung sedang melumuri langit Banjarmasin ketika itu.

Alina berlari cepat menyeberang jalan, dia seharusnya lewat zebra cross, tapi tanggung, toko yang mau ditujunya tepat di depan jalan, sementara zebra crossnya masih kurang lebih dua puluh meter lagi. Tepat ketika Alina masuk toko, hujan menguyur bumi tanpa permisi. Alina bersyukur karena tidak lupa membawa payung dalam tasnya. Ketika asyik memilih dan mencium cologne, sentuhan ringan di pundaknya sungguh mengagetkan. Masih untung Alina tidak berteriak. Bram, lelaki yang menyentuhnya, tersenyum manis. Matanya bersinar jenaka, tangannya malah dengan santai memeluk Alina.

Baca selebihnya »

Agustus 12, 2008 Ditulis oleh hatmiati | cerpen, prosa | , , , , | & Komentar

akulah sinta yang membenci rama

akulah sinta yang membenci rama
karna dia telah membiarkan rahwana menculikku

akulah sinta yang membenci rama
meskipun dia telah menggalang pasukan untuk merebutku
tapi rama tak percaya padaku

akulah sinta yang membenci rama…

(ini ceritanya lagi belajar bikin coretan…komentarin dong)

Agustus 5, 2008 Ditulis oleh hatmiati | cerpen | | & Komentar

CARA POSTING

Caranya ketik tulisan baru, ketik apa yang handak diolah. selanjutnya simpan dan terbitkan atau liat distatus terbit (telah terbit atau printah yg lain) bila hndak diterbitkan ambil telah terbit.

Agustus 4, 2008 Ditulis oleh hatmiati | cerpen | | No Comments Yet

Tahajud

malam sepi ini milikku

tempat melukis wajah yang resah

dalam sembilu angin malam yang pilu

dalam senyap yang ragu

tak’kala tasbih meretaskan nama sang Maha

Agustus 3, 2008 Ditulis oleh hatmiati | cerpen | | No Comments Yet