ramadhan berlalu
ramadhan berlalu…
menyisakan kefitrian yang putih
hati sebersih salju tanpa noda
rasa sebening embuh yang masih merangkak di daun
sedang cinta berbunga seumpama mawar mekar
tersentuh gerimis pagi
ramadhan berlalu
tetapi aromanya masih berasa
hingga kini…nanti…dan selamanya…
Entah
entah mengapa juni hadir tanpa permisi
membenturkan hasrat yang lelah dilalui waktu
merangkak, meskipun masih berharap
mengkhayal, menyisir sisi masa
menyimpan senyum untuk sebuah kemenangan
dan…kekalahan hanya nasib yang tahu
pun ketika kalah … tetaplah pemenang,
pemenang untuk selalu menghargai kekalahan…
entah…lah
Melaut Kotaku (Amuntai yang kembali banjir)
ini, adalah bukti cintamu padaku…
langit tak punya plafon hingga tempias hujan tak mampu tertampung
kami hanya punya baskom, itu pun kecil…
melautlah kotaku,
sedang, kami hanyalah hilir yang menadah segala kiriman
pasrah, meskipun semakin dalam…
benci kami tak mungkin, karena itulah bukti cintamu
dan kami percaya lautan ini akan surut, gelombang ini pasti akan kembali ke pantai
dan…di ujung musim segalanya menjadi paripurna
Merasai Hujan Musim Semi
Merasai hujan musim semi adalah mencecap air telaga surga yang hadir selintas
hangat dan menyegarkan
melibas segala yang pernah terlalui hingga lupa
dulu entah apalah yang pernah berwarna
ataukah…
musim semi juga pernah singgah
dan…
hujan juga beranjangsana
merasai…dan kemudian mencecap hujan musim semi
membuat hati kembali merah jambu
entah apalah kini yang mesti terwarnai lagi
saat hujan musim semi
….
SEANDAINYA?
Seandainya ada tablet keabadian
Aku ingin menelannya
Abadi dalam ketidakwarasan
Abadi dalam ketidakmengertian
Abadi dalam segala yang tak bisa kupahami
Seandainya ada lorong waktu
Aku ingin menyusurinya,
Agar dapat kembali ke hulu
Melebur diri dalam kawah candradimuka
Melepuh, mengelupas segala sisa karat nista
Seandainya bisa,
Maukah Kau tetap menyapaku?
Musim Semi
Dari tepi langit
kabut menyebar rata di bumi
dipeluknya yang dingin kuremas erat resahku
kau…
hanya sunyi
pergimu telah memulangkan segalanya..
…
Ketika Hati Tak Mampu Menjawab
Pagi, yang masih sebenar-benarnya, aku telah bangun dan mempersiapkan segalanya. Hari ini menjadi pembicara di sebuah seminar kewanitaan benar-benar membuat nervous, entah mengapa? Mungkin ini karena menjadi satu-satunya pembicara, atau juga temanya yang lumayan sulit, meskipun sudah digembor-gemborkan sekian waktu lalu, tentang Emansipasi Wanita.
Seperti sudah kuduga sebelumnya, pertanyaan seputar ‘pemimpin wanita, poligami, dan masalah krusial lainnya yang berhubungan dengan wanita menjadi hal yang menarik bagi peserta seminar untuk diperdebatkan.
Ketika tersisa waktu sekitar setengah jam, tiba-tiba seorang perempuan peserta seminar berdiri. Rupanya dia masih mau bertanya, moderator memberikan kesempatan.
Sewaktu bertanya, perempuan itu terlihat bergetar, bahkan meneteskan airmata. Peserta terdiam. Pertanyaan itu ternyata tentang keadaannya dalam rumah tangga, tentang kekerasan yang dialaminya, dari segi ekonomi, fisik, dan hatinya yang terluka parah. Sementara itu, dia telah berusaha mengajak pasangannya untuk berkomunikasi, memberi kesempatan berulang-ulang, dan selalu berbakti sebagai istri.
Aku terdiam, bagaimana menjawab sesuatu yang aku tidak menyiapkan jawabannya. Haruskah menyuruhnya berpisah, sementara itu adalah pekerjaan yang dibenci Allah. Memintanya untuk berkomunikasi dengan pasangannya, padahal hal itu sudah dilakukannya berulang-ulang. Akhirnya, setelah aku berpikir sejenak, aku menyuruhnya bersabar, semoga itu adalah ladang ibadah bagi dirinya, dan Yang Mahakuasa akan membalas dengan berlipat ganda kebaikan. Padahal, sesejujurnya jawabanku tersebut sangat bertentangan dengan nuraniku. Aku ingin dia berpisah saja, mengapa harus membiarkan diri terzhalimi dan dizhalimi, tetapi aku tak mampu mengeluarkan jawaban itu. Kupilih jalan aman, agar dia tidak merasa terprovokasi, kubiarkan dia berpikir dulu, karena segala sesuatu ketika tiba pada waktunya, pasti jalan keluar terbaik akan datang menghampiri.
Semoga….
Catatan yang Sempat Tercatat Sepanjang Menjejak Kampus 1
Hari ini…terlambat 15 menit mengajar di kampus, untungnya mahasiswa masih setia menunggu karena sudah ada janji UTS. Alasan terlambatnya, biasa saja. Ada tamu, yang segan kalau ditinggalkan pergi…yach..klise uey.
UTS, berlangsung tenang…mahasiswa-mahasiswa perempuan ini hampir tak ada suaranya, serius sekali. Kalaupun ada yang nyontek pasti ketahuan…tapi sengaja kubiarkan karena tidak mungkin juga. Seluruh soal harus mereka jawab dengan menggunakan pikiran dan penalaran masing-masing.
Sembilan puluh menit kemudian, suara mahasiswa sudah mulai agak rame, rupanya sebagian besar sudah selesai dan maunya cepat-cepat pulang.
Mahasiswa hampir habis, tinggal satu orang yang masih mengerjakan. sesekali memperhatikan jam yang ada pegelangan tangannya. waktu memang sudah hampir pukul enam sore.
“Pulang ke mana?” tanyaku tiba-tiba.
“Jauh, Bu.” Jawabnya pelan. ‘Mengapa tidak nyewa atau ngontrak di Amuntai saja? Lebih dekat dan tidak terburu-buru kalau berangkat ke Kampus.”
“Sulit Bu, ortu saya tidak mau terpisah. Mereka masih kangen dan ingin bersama saya.”
“Lho, selama ini ortumu di mana?”
“Di luar negeri, Bu. sepuluh tahun ayah dan ibu saya di sana. selama ini saya tinggal dengan nenek saya saja. sekarang mereka sudah datang jadi tidak mau berpisah dengan saya.”
“Syukurlah, kalau begitu.”
“Tetapi saya lagi pusing Bu.”
“Mengapa?” Sambil memasukan hasil pekerjaan siswa, saya bertanya dengan setengah heran.
“Ayah saya mau menikah lagi.”
“Lho, kok bisa?”
“Nggak tahu Bu. Tapi saya dengan ibu tak masalah. Biar saja, yang penting ayah bahagia.”
Sesaat saya termangu. Sederhana sekali. Yang penting ayah bahagia, katanya. Terus kebahagian mereka bagaimana? Entahlah. Barangkali kebahagian itu ketika melihat ayahnya bahagia.
Sepanjang perjalanan menuju pulang, percakapan dengan mahasiswa itu terngiang terus. Tetapi mungkin begitulah hidup yang akan selalu berjalan bersama segala yang akan terjadi. Semoga saja mahasiswa tadi tabah dan tetap terus kuliah. Biar dia dapat menunjukkan pada dunia bahwa dia berhasil mecapai segala impian dan harapannya.
Wisata Kuliner di Amuntai
Beranjangsana ke kota Amuntai tak cukup hanya dengan menikmati suasana kotanya saja. Wisata kuliner menjadi tujuan yang wajib dilakukan. Begitu masuk kota, pemandangan yang tersuguh adalah sebuah ikon kota berupa itik alabio yang badannya jauh lebih besar dari kerbau rawa. Aneh? Tidak juga. Karena sedari dulu Amuntai sudah dikenal dengan itik alabionya, sedangkan kerbau rawa dikenal di daerah Babarawa, yang disering mengadakan lomba kerbau rawa.
Amuntai, dengan ikon itik alabio, terkenal dengan itik panggang dan itik goreng, satu lagi yang terfavorit tetapi sering terlupa menyebutnya adalah belibis panggang dan belibis goreng. Lezat? Sangat luar biasa. Sekali-sekali datanglah sahabat berkunjung ke Amuntai. Setiap warung makanan, biasanya menyajikan menu itik panggang/goreng, tetapi untuk belibis jarang karena belibis termasuk burung yang sekarang agak langka (mungkin karena sering diburu dan ditangkap sementara budidayanya cukup sulit). Belibis panggang/goreng hanya ada pada warung-warung tertentu, harga perporsi bervariasi antara Rp 25.000 s.d Rp 50.000. Tetapi harga makanan itu sesuai dengan kelezatan yang akan diperoleh ketika makanan ini menyentuh lidah.
Kuliner di Amuntai juga didukung dengan masyarakatnya yang memang doyan makan di warung. Sehingga, warung-warung makanan tumbuh subur dan menjamur tanpa kehilangan pembeli.
Selain itu, Amuntai juga terkenal dengan ‘cake market’ alias pasar pasar kue/wadai. Segala macam jajanan berupa wadai tradisional ada di pasar yang buka setiap pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore ini. Mulai dari cucur, apem, bingka, sampai tapai. Bahkan ada makanan berupa alua (manisan) pepaya dan ‘kundur’ (sejenis labu putih). Alua ini bisa disimpan berbulan-bulan, biasanya ramai dipesan bila tiba musim kawin karena alua ini dapat diolah menjadi berbagai bentuk dan diletakkan berdampingan dengan kue pengantin. Amuntai juga terkenal dengan gula-gula yang berbentuk kapal layar, itik dengan anak-anaknya, bunga, dan bentuk lainnya. Gula-gula ini juga ramai dipesan apabila tiba musim kawin, karena fungsinya sama dengan alua. Bahkan, dengan bentuk, warna yang menarik, dan rasanya yang manis legit gula-gula ini juga menjadi ciri khas yang tidak ada di daerah lain. Tertarik?
Masih tentang makanan, Amuntai juga terkenal dengan kerupuk haruan (ikan gabus), dan itik yang diawetkan berupa dendeng itik yang sangat lezat dan dapat dijadikan oleh-oleh berkunjung ke Amuntai.
Amuntai, kota kecil yang terus menggeliat dalam pembangunan. Kaya dengan makanan tetapi juga terkenal dengan industri lampit rotan dan pembuatan lemari.
Berkunjunglah, andai sempat dan punya waktu, sahabat akan menemukan nuansa yang berbeda di kota ini yang terkenal dengan kota Bertakwa.
musim ke sekian
hujan turun lagi
berjingkrak…ke sekian kali
tanah yang merekah tersipu malu
hujan menyapa sepenuh daya
di hulu sungai mulai menguap pelan
sambil ngantuk menghayutkan segala
sambil berlabuh bertemu sang pujaan
tak terpikir hilir adalah muara yang belum sampai ke tengah…
di pertemuan keduanya…
luapan telah menenggelamkan rindu…
pelukan mesra menjadi tangis bahagia
hujan masih riang tertawa
menyaksikan air pelan-pelang
menguburkan semua
banjir menjadi akhir yang sepi
CINTA ITU LUKA
“Jadi? Kita selingkuh, ya, Pak?” Mareta bertanya bingung.
Lelaki awal empat puluhan itu tersenyum. Ditatapnya Mareta dengan sayang.
“Tidak.”
“Terus?”
“Saya memang suka sekali denganmu. Sayang. Cinta. Tetapi, saya tidak akan mengajakmu selingkuh.”
“Jadi?”
“Saya cuma menyampaikan perasaan yang saya punya untukmu. Perasaan yang telah saya pendam sekian lama.”
“Sekian lama? Sejak kapan?”
“Saya juga tidak tahu sejak kapan. Yang jelas, perasaan yang kupunya ini mengalir begitu saja.”
“Mungkin karena saya berbeda dengan istri bapak.”
“Bukan, Mareta.”
“Lalu karena apa?”
“Karena saya merasa cocok denganmu.”
“Lho! Bukankah selama ini bapak juga sudah cocok dengan ibu.”
“Entahlah, Mareta. Susah, saya menjawabnya.”
“Saya malah tambah bingung.”
“Jangan dipikirkan, Mareta. Saya cuma ingin kamu tahu saja bahwa saya telah mencintaimu selama ini. Dan, saya siap seandainya kamu marah dengan perasaan yang saya punya untukmu. Kamu boleh memaki-maki saya, tetapi tolong pahami bahwa perasaan ini tulus untukmu.”
“Apakah karena saya cantik atau karena saya pintar?”
“Saya tidak mencintai kecantikanmu. Saya juga tidak mencintai kepintaranmu, tetapi saya mencintaimu apa adanya.”
“Benarkah?”
“Iya, Mareta. Seandainya saya mencintaimu karena kecantikan, maka saya tidak akan memilihmu karena suatu ketika kecantikanmu akan pudar. Seandainya saya mencintaimu karena kepintaranmu, maka saya tidak akan memilihmu karena suatu saat nanti kamu pasti membodohiku.” Baca selebihnya »
CINTA MATI
CINTA MATI
Hatmiati Masy’ud
File 1
Melewati batasan harapan
Adalah buah ketidakpercayaan
Nasib ini punya aku sendiri
Tapi kecewa tak bisa kuukir dengan kata-kata
Entahlah…apakah masih kupunya cinta
Sedang kini telah kukubur segala waktu yang kupunya
Aku lelah bertarung…lelah dalam kerangkeng takdir tak terbaca
Biarlah pasrah mewakili hati putih yang terluka
Karena hasrat zaman tak terjamah
File 2
Susahnya memaknai cinta yang hadir tanpa diminta
Perih…serupa sembilu luka
Memanjang dalam setiap lorong ketakberdayaan
Cinta menyerah…kalah
Tersungkur di altar kepasrahan
File 3
Janji langit membahana
Mengoyak semesta samudera hati
Nyanyian para bidadari terhenti
Angin tak sempat mampir ke muara
Mestinya rindu ini harus bersahaja
Tak kurang kupahami isyarat
Tersamar dalam wajah-wajah musim
Menggeletar, memaksaku bersujud
Nasib ini, adakah kupunya kuasa
Kehendakku tak bisa kutunaikan
File 4
Telah kutuntaskan segala hasrat
Besok entah waktu apa yang kupunya
Meniti jalan ini membuat luka cinta berdarah
Parah sampai ke sum-sum
Gigil tak sempat lagi termaknai
Biarlah jejak ini paripurna
Meskipun harus ditukar dengan lara
Bukan Sekedar Cinta (Part 3)
PART 3
Berkali-kali panggilan itu terdengar, bahkan gedoran di pintu kamarnya. Alina tetap sesegukkan dengan tangisnya. Tetapi, kemudian dia bergerak pelan membuka pintu. Bundanya menerobos masuk.
“Al, sudah sayang, kita harus ke rumah sakit Ulin sekarang.” Ibunya memeluknya erat. Alina terkesima, dia bingung, sambil berjalan dalam pelukan ibunya, Alina masih tidak mengerti yang terjadi. Sesampainya di rumah sakit, Alina baru sadar rombongan pengantin lelakinya telah kecelakaan.
“Di mana Bram, Bu? Bagaimana keadaannya?” Alina bertanya sambil menangis. Di ujung lorong rumah sakit, dokter yang berjalan tegesa-gesa berhenti di dekat Alina.
“Menanyakan siapa Bu?”
“Bram, Dok, rombongan pengantin yang kecelakaan di jalan Samudera.” Ibu Alina menyahut.
“Oh itu, di kamar 21 Melati, Bu.” Dokter itu berlalu.
Alina setengah berlari ke kamar itu, ketika sampai dia terpaku menyaksikan Bram dan Santi di ruang itu. Dengan muka sepucat mayat Alina menghampiri ranjang Bram dan Santi yang berdampingan. Pengantinnya dan istrinya sekarat, Alina tak sempat berpikir, dia menggenggam tangan keduanya, sambil menangis tanpa suara. Alina ditarik ibunya keluar kamar. Bram dan istrinya akan segera di operasi. Tiga jam lebih Alina menunggu. Air matanya seperti tak mau berhenti mengalir. Di ujung keputusasaan menunggu, ruang UGD terbuka. Para dokter yang menanganinya keluar.
“Siapa keluarga pasien? Ikuti saya ke ruangan.” Dokter itu kemudian berjalan menuju ruangannya. Salah seorang keluarga Bram mengikuti dokter.
Setengah jam kemudian, Bram terdengar merintih. Bibirnya komat-kamit menyebut nama Alina. Perawat yang menjaganya kemudian memanggil Alina. Di ruangan itu, Alina terguguk di samping Bram. Tak ada kata yang mampu keluar dari mulutnya. Menatap Bram dalam balutan perban-perban putih, membuat Alina seperti bercanda dengan maut.
“Al, maukah menjaga Faisal untukku?” Bram berbisik lirih. Alina mengangguk cepat. Diletakkannya telunjuknya di bibir Bram. Sesaat kemudian, Bram pergi menemui Penciptanya. Setengah jam setelah itu, Santi yang dalam keadaan koma menyusulnya. Lelangut kesedihan mengepung Alina dari segala penjuru, dia merasa pandangannya gelap. Dia baru sadar keesokan harinya. Di rumah sakit yang sama dengan Bram dan Santi. Mereka telah mendahuluinya. Alina bangkit dari tempat tidurnya, dilihatnya bunda dan bapaknya di samping tempat tidur. Sementara itu, beberapa orang keluarga Bram yang ikut dalam rombongan pengantin hanya menderita luka-luka dan sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan tiga orang lainnya masih dalam perawatan dokter, termasuk sopir yang masih dalam keadaan tidak sadar.
“Bu, bagaimana keadaan Faisal?” Alina bertanya lemah.
“Alhamdulillah, Faisal berhasil diselamatkan. Sekarang masih dalam perawatan dokter, tetapi sudah boleh ditengok.”
“Bu, aku mau menemui Faisal, aku ingin menemuinya.” Kali ini Alina menangis sekeras-kerasnya.
“Iya sayang, sabar, nanti kita akan ke kamar Faisal.” Ibunya merangkulnya erat. Kepedihan berbaur dengan aroma duka.
Senja mulai merapatkan jalanya ketika Alina dan ibunya berada di rumah Bram. Rumah yang penuh orang-orang yang melayat dan bertakziah atas kematian suami istri yang baik itu. Alina membisu, tak sepatah kata terlontar dari lisannya. Hanya air mata yang jatuh satu-satu di surah Yasin yang dibacanya. Selepas sholat Magrib, Alina dan ibunya meninggalkan rumah Bram. Alina berpisah dengan ibunya, dia ke rumah sakit, menemani Faisal, sedangkan ibunya kembali ke rumah, membereskan keadaan rumahnya. Alina juga tidak sempat bertemu Sabina hari ini. Sesampainya di rumah sakit, di kamar Faisal, Alina terpaku memandang bocah berusia lima tahun itu. Hatinya nyeri membayangkan Faisal yang kini yatim piatu. Pelan dibelainya rambut Faisal, kasihnya menyeruak tanpa tercegah. Tengah malam Faisal terbangun kesakitan, suara erangannya membuat Alina terkejut, kantuk yang menyerangnya lenyap entah ke mana. Dipeluknya Faisal dengan sayang, tak lama bocah itu kembali terlelap.
Tujuh hari di rumah sakit, tubuh Alina menyusut, kulitnya pucat, tetapi matanya berseri-seri laksana matahari di ufuk timur. Kedekatannya dengan Faisal telah mengalirkan adrenalin dalam sel tubuhnya. Faisal, Faisal yang telah diizinkan keluarganya tinggal dengan Alina, sesuai dengan amanat Bram. Diterimanya anak itu dengan segenap kasih yang dia punya. “Jagoanku”, kata Alina giris. “Bram dan Santi telah meninggalkannya untukku, aku akan merawatnya. Kini hidupku telah lengkap, aku sudah punya perempuan, Sabina, dan Faisal lelakinya, aku tak perlu orang lain lagi”, pikirnya. Alina pulang ke rumahnya di hari kesembilan, bersama Faisal yang disambut Sabina dengan suka cita.
Setelah peringatan seratus hari kematian Bram dan Santi, Alina dan kedua bocah terkasihnya pergi ke makam Bram dan Santi, mereka berziarah sekaligus berpamitan untuk kembali ke tempat tugas Alina. “Izinkan Faisal bersamaku, menggantikan dirimu Bram”, bisik Alina lirih.
“Mama, di sini bunda dan ayahku ya? Mereka ngapain mama? Kok tidul ditimbun tanah begini?” Suara cadel Faisal memecahkan suasana sepi. Belum sempat Alina menjawab, tiba-tiba, bocah itu menjatuhkan diri di antara makam ayah dan ibunya. Menangis dengan keras. Alina tersentak. Cepat diangkatnya Faisal.
“Sayang, sudah ya Sayang. Ayah sama Bunda pasti sedih kalau melihatmu menangis. Ayah sama Bunda sudah berada di surga. Mereka sayang sekali dengan Faisal. Sekarang Faisal ikut Mama Alin aja, sama Kakak Sabina juga, ya?”
Bocah lelaki itu mengangguk.
“Tapi, nanti kita ke sini lagi kan Ma?” Cepat Alina mengangguk. airmata mulai mengalir lagi di pipi Faisal. Alina menahan nyeri di hatinya. Cepat diraihnya tangan Sabina. Mengajaknya berlalu.
Matahari naik sepenggalahan membentuk siluet tiga tubuh yang meninggalkan kompleks pemakaman. Jauh dan semakin jauh.
***
Menjelang dinihari, Peb ’09
Batimung: Mandi sauna dengan uap rempah-rempah.
Bukan Sekedar Cinta
PART 3
Berkali-kali panggilan itu terdengar, bahkan gedoran di pintu kamarnya. Alina tetap sesegukkan dengan tangisnya. Tetapi, kemudian dia bergerak pelan membuka pintu. Bundanya menerobos masuk.
“Al, sudah sayang, kita harus ke rumah sakit Ulin sekarang.” Ibunya memeluknya erat. Alina terkesima, dia bingung, sambil berjalan dalam pelukan ibunya, Alina masih tidak mengerti yang terjadi. Sesampainya di rumah sakit, Alina baru sadar rombongan pengantin lelakinya telah kecelakaan.
“Di mana Bram, Bu? Bagaimana keadaannya?” Alina bertanya sambil menangis. Di ujung lorong rumah sakit, dokter yang berjalan tegesa-gesa berhenti di dekat Alina.
“Menanyakan siapa Bu?”
“Bram, Dok, rombongan pengantin yang kecelakaan di jalan Samudera.” Ibu Alina menyahut.
“Oh itu, di kamar 21 Melati, Bu.” Dokter itu berlalu.
Alina setengah berlari ke kamar itu, ketika sampai dia terpaku menyaksikan Bram dan Santi di ruang itu. Dengan muka sepucat mayat Alina menghampiri ranjang Bram dan Santi yang berdampingan. Pengantinnya dan istrinya sekarat, Alina tak sempat berpikir, dia menggenggam tangan keduanya, sambil menangis tanpa suara. Alina ditarik ibunya keluar kamar. Bram dan istrinya akan segera di operasi. Tiga jam lebih Alina menunggu. Air matanya seperti tak mau berhenti mengalir. Di ujung keputusasaan menunggu, ruang UGD terbuka. Para dokter yang menanganinya keluar.
“Siapa keluarga pasien? Ikuti saya ke ruangan.” Dokter itu kemudian berjalan menuju ruangannya. Salah seorang keluarga Bram mengikuti dokter.
Setengah jam kemudian, Bram terdengar merintih. Bibirnya komat-kamit menyebut nama Alina. Perawat yang menjaganya kemudian memanggil Alina. Di ruangan itu, Alina terguguk di samping Bram. Tak ada kata yang mampu keluar dari mulutnya. Menatap Bram dalam balutan perban-perban putih, membuat Alina seperti bercanda dengan maut.
“Al, maukah menjaga Faisal untukku?” Bram berbisik lirih. Alina mengangguk cepat. Diletakkannya telunjuknya di bibir Bram. Sesaat kemudian, Bram pergi menemui Penciptanya. Setengah jam setelah itu, Santi yang dalam keadaan koma menyusulnya. Lelangut kesedihan mengepung Alina dari segala penjuru, dia merasa pandangannya gelap. Dia baru sadar keesokan harinya. Di rumah sakit yang sama dengan Bram dan Santi. Mereka telah mendahuluinya. Alina bangkit dari tempat tidurnya, dilihatnya bunda dan bapaknya di samping tempat tidur. Sementara itu, beberapa orang keluarga Bram yang ikut dalam rombongan pengantin hanya menderita luka-luka dan sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan tiga orang lainnya masih dalam perawatan dokter, termasuk sopir yang masih dalam keadaan tidak sadar.
“Bu, bagaimana keadaan Faisal?” Alina bertanya lemah.
“Alhamdulillah, Faisal berhasil diselamatkan. Sekarang masih dalam perawatan dokter, tetapi sudah boleh ditengok.”
“Bu, aku mau menemui Faisal, aku ingin menemuinya.” Kali ini Alina menangis sekeras-kerasnya.
“Iya sayang, sabar, nanti kita akan ke kamar Faisal.” Ibunya merangkulnya erat. Kepedihan berbaur dengan aroma duka.
Senja mulai merapatkan jalanya ketika Alina dan ibunya berada di rumah Bram. Rumah yang penuh orang-orang yang melayat dan bertakziah atas kematian suami istri yang baik itu. Alina membisu, tak sepatah kata terlontar dari lisannya. Hanya air mata yang jatuh satu-satu di surah Yasin yang dibacanya. Selepas sholat Magrib, Alina dan ibunya meninggalkan rumah Bram. Alina berpisah dengan ibunya, dia ke rumah sakit, menemani Faisal, sedangkan ibunya kembali ke rumah, membereskan keadaan rumahnya. Alina juga tidak sempat bertemu Sabina hari ini. Sesampainya di rumah sakit, di kamar Faisal, Alina terpaku memandang bocah berusia lima tahun itu. Hatinya nyeri membayangkan Faisal yang kini yatim piatu. Pelan dibelainya rambut Faisal, kasihnya menyeruak tanpa tercegah. Tengah malam Faisal terbangun kesakitan, suara erangannya membuat Alina terkejut, kantuk yang menyerangnya lenyap entah ke mana. Dipeluknya Faisal dengan sayang, tak lama bocah itu kembali terlelap.
Tujuh hari di rumah sakit, tubuh Alina menyusut, kulitnya pucat, tetapi matanya berseri-seri laksana matahari di ufuk timur. Kedekatannya dengan Faisal telah mengalirkan adrenalin dalam sel tubuhnya. Faisal, Faisal yang telah diizinkan keluarganya tinggal dengan Alina, sesuai dengan amanat Bram. Diterimanya anak itu dengan segenap kasih yang dia punya. “Jagoanku”, kata Alina giris. “Bram dan Santi telah meninggalkannya untukku, aku akan merawatnya. Kini hidupku telah lengkap, aku sudah punya perempuan, Sabina, dan Faisal lelakinya, aku tak perlu orang lain lagi”, pikirnya. Alina pulang ke rumahnya di hari kesembilan, bersama Faisal yang disambut Sabina dengan suka cita.
Setelah peringatan seratus hari kematian Bram dan Santi, Alina dan kedua bocah terkasihnya pergi ke makam Bram dan Santi, mereka berziarah sekaligus berpamitan untuk kembali ke tempat tugas Alina. “Izinkan Faisal bersamaku, menggantikan dirimu Bram”, bisik Alina lirih.
“Mama, di sini bunda dan ayahku ya? Mereka ngapain mama? Kok tidul ditimbun tanah begini?” Suara cadel Faisal memecahkan suasana sepi. Belum sempat Alina menjawab, tiba-tiba, bocah itu menjatuhkan diri di antara makam ayah dan ibunya. Menangis dengan keras. Alina tersentak. Cepat diangkatnya Faisal.
“Sayang, sudah ya Sayang. Ayah sama Bunda pasti sedih kalau melihatmu menangis. Ayah sama Bunda sudah berada di surga. Mereka sayang sekali dengan Faisal. Sekarang Faisal ikut Mama Alin aja, sama Kakak Sabina juga, ya?”
Bocah lelaki itu mengangguk.
“Tapi, nanti kita ke sini lagi kan Ma?” Cepat Alina mengangguk. airmata mulai mengalir lagi di pipi Faisal. Alina menahan nyeri di hatinya. Cepat diraihnya tangan Sabina. Mengajaknya berlalu.
Matahari naik sepenggalahan membentuk siluet tiga tubuh yang meninggalkan kompleks pemakaman. Jauh dan semakin jauh.
***
Menjelang dinihari, Peb 2009
Batimung: Mandi sauna dengan uap rempah-rempah.
Amuntai, Banjir lagi…
Amuntai, kota yang terkenal dengan slogan Kota Bertakwa kini banjir lagi…kalau dihitung-hitung ini sudah yang keempat kali. Memang banjir ini merupakan banjir kiriman dari kabupaten Tabalong dan Balangan, tetapi tak ada salahnya kalau pemerintah daerah dan masyarakat mulai memikirkan alternatif untuk meminimalkan banjir yang selalu terjadi setiap tahun.
Banjir di Amuntai tidak hanya menyebabkan rumah dan persawahan terendam, banjir juga mengganggu transportasi bahkan menyebabkan korban jiwa.
Ada beberapa alternatif yang mungkin dillakukan pemda dan masyarakat…teman-teman punya saran???
-
Arsip
- September 2010 (1)
- Mei 2010 (1)
- April 2010 (1)
- Desember 2009 (7)
- Mei 2009 (1)
- Februari 2009 (3)
- Januari 2009 (2)
- Agustus 2008 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS