Hatmiati's Weblog

belajar memaknai hidup melalui tulisan yang hadir selintas-selintas

Merasai Hujan Musim Semi

Merasai hujan musim semi adalah mencecap air telaga surga yang hadir selintas

hangat dan menyegarkan

melibas segala yang pernah terlalui hingga lupa

dulu entah apalah yang pernah berwarna

ataukah…

musim semi juga pernah singgah

dan…

hujan juga beranjangsana

merasai…dan kemudian mencecap hujan musim semi

membuat hati kembali merah jambu

entah apalah kini yang mesti terwarnai lagi

saat hujan musim semi

….

Desember 29, 2009 Posted by | puisi | 4 Komentar

SEANDAINYA?

Seandainya ada tablet keabadian

Aku ingin menelannya

Abadi dalam ketidakwarasan

Abadi dalam ketidakmengertian

Abadi dalam segala yang tak bisa kupahami

Seandainya ada lorong waktu

Aku ingin menyusurinya,

Agar dapat kembali ke hulu

Melebur diri dalam kawah candradimuka

Melepuh, mengelupas segala sisa karat nista

Seandainya bisa,

Maukah Kau tetap menyapaku?

Desember 28, 2009 Posted by | puisi | Tinggalkan sebuah Komentar

Musim Semi

Dari tepi langit

kabut menyebar rata di bumi

dipeluknya yang dingin kuremas erat resahku

kau…

hanya sunyi

pergimu telah memulangkan segalanya..

Desember 22, 2009 Posted by | puisi | 2 Komentar

Ketika Hati Tak Mampu Menjawab

Pagi, yang masih sebenar-benarnya, aku telah bangun dan mempersiapkan segalanya. Hari ini menjadi pembicara di sebuah seminar kewanitaan benar-benar membuat nervous, entah mengapa? Mungkin ini karena menjadi satu-satunya pembicara, atau juga temanya yang lumayan sulit, meskipun sudah digembor-gemborkan sekian waktu lalu, tentang Emansipasi Wanita.

Seperti sudah kuduga sebelumnya, pertanyaan seputar ‘pemimpin wanita, poligami, dan masalah krusial lainnya yang berhubungan dengan wanita menjadi hal yang menarik bagi peserta seminar untuk diperdebatkan.

Ketika tersisa waktu sekitar setengah jam, tiba-tiba seorang perempuan peserta seminar berdiri. Rupanya dia masih mau bertanya, moderator  memberikan kesempatan.

Sewaktu bertanya, perempuan itu terlihat bergetar, bahkan meneteskan airmata. Peserta terdiam. Pertanyaan itu ternyata tentang keadaannya dalam rumah tangga, tentang kekerasan yang dialaminya, dari segi ekonomi, fisik, dan hatinya yang terluka parah. Sementara itu, dia telah berusaha mengajak pasangannya untuk berkomunikasi, memberi kesempatan berulang-ulang, dan selalu berbakti sebagai istri.

Aku terdiam, bagaimana menjawab sesuatu yang aku tidak menyiapkan jawabannya. Haruskah menyuruhnya berpisah, sementara itu adalah pekerjaan yang dibenci Allah. Memintanya untuk berkomunikasi dengan pasangannya, padahal hal itu sudah dilakukannya berulang-ulang. Akhirnya, setelah aku berpikir sejenak, aku menyuruhnya bersabar, semoga itu adalah ladang ibadah bagi dirinya, dan Yang Mahakuasa akan membalas dengan berlipat ganda kebaikan. Padahal, sesejujurnya jawabanku tersebut sangat bertentangan dengan nuraniku. Aku ingin dia berpisah saja, mengapa harus membiarkan diri terzhalimi dan dizhalimi, tetapi aku tak mampu mengeluarkan jawaban itu. Kupilih jalan aman, agar dia tidak merasa terprovokasi, kubiarkan dia berpikir dulu, karena segala sesuatu ketika tiba pada waktunya, pasti jalan keluar terbaik akan datang menghampiri.

Semoga….

Desember 16, 2009 Posted by | catatan pendek | Tinggalkan sebuah Komentar

Catatan yang Sempat Tercatat Sepanjang Menjejak Kampus 1

Hari ini…terlambat 15 menit mengajar di kampus, untungnya mahasiswa masih setia menunggu karena sudah ada janji UTS. Alasan terlambatnya, biasa saja. Ada tamu, yang segan kalau ditinggalkan pergi…yach..klise uey.

UTS, berlangsung tenang…mahasiswa-mahasiswa  perempuan ini hampir tak ada suaranya, serius sekali. Kalaupun ada yang nyontek pasti ketahuan…tapi sengaja kubiarkan karena tidak mungkin juga. Seluruh soal harus mereka jawab dengan menggunakan pikiran dan penalaran masing-masing.

Sembilan puluh menit kemudian, suara mahasiswa sudah mulai agak rame, rupanya sebagian besar sudah selesai dan maunya cepat-cepat pulang.

Mahasiswa hampir habis, tinggal satu orang yang masih mengerjakan. sesekali memperhatikan jam yang ada pegelangan tangannya. waktu memang sudah hampir pukul enam sore.

“Pulang ke mana?” tanyaku tiba-tiba.

“Jauh, Bu.” Jawabnya pelan. ‘Mengapa tidak nyewa atau ngontrak di Amuntai saja? Lebih dekat dan tidak terburu-buru kalau berangkat ke Kampus.”

“Sulit Bu, ortu saya tidak mau terpisah. Mereka masih kangen dan ingin bersama saya.”

“Lho, selama ini ortumu di mana?”

“Di luar negeri, Bu. sepuluh tahun ayah dan ibu saya di sana. selama ini saya tinggal dengan nenek saya saja. sekarang mereka sudah datang jadi tidak mau berpisah dengan saya.”

“Syukurlah, kalau begitu.”

“Tetapi saya lagi pusing Bu.”

“Mengapa?” Sambil memasukan hasil pekerjaan siswa, saya bertanya dengan setengah heran.

“Ayah saya mau menikah lagi.”

“Lho, kok bisa?”

“Nggak tahu Bu. Tapi saya dengan ibu tak masalah. Biar saja, yang penting ayah bahagia.”

Sesaat saya termangu. Sederhana sekali. Yang penting ayah bahagia, katanya. Terus kebahagian mereka bagaimana? Entahlah. Barangkali kebahagian itu ketika melihat ayahnya bahagia.

Sepanjang perjalanan menuju pulang, percakapan dengan mahasiswa itu terngiang terus. Tetapi mungkin begitulah hidup yang akan selalu berjalan bersama segala yang akan terjadi. Semoga saja mahasiswa tadi tabah dan tetap terus kuliah. Biar dia dapat menunjukkan pada dunia bahwa dia berhasil mecapai segala impian dan harapannya.

Desember 15, 2009 Posted by | catatan pendek | Tinggalkan sebuah Komentar

Wisata Kuliner di Amuntai

Beranjangsana ke kota Amuntai tak cukup hanya dengan menikmati suasana kotanya saja. Wisata kuliner menjadi tujuan yang wajib dilakukan. Begitu masuk kota, pemandangan yang tersuguh adalah sebuah ikon kota berupa itik alabio yang badannya jauh lebih besar dari kerbau rawa. Aneh? Tidak juga. Karena sedari dulu Amuntai sudah dikenal dengan itik alabionya, sedangkan kerbau rawa dikenal di daerah Babarawa, yang disering mengadakan lomba kerbau rawa.

Amuntai, dengan ikon itik alabio, terkenal dengan itik panggang dan itik goreng, satu lagi yang terfavorit tetapi sering terlupa menyebutnya adalah belibis panggang dan belibis goreng. Lezat? Sangat luar biasa. Sekali-sekali datanglah sahabat berkunjung ke Amuntai. Setiap warung makanan, biasanya menyajikan menu itik panggang/goreng, tetapi untuk belibis jarang karena belibis termasuk burung yang sekarang agak langka (mungkin karena sering diburu dan ditangkap sementara budidayanya cukup sulit). Belibis panggang/goreng hanya ada pada warung-warung tertentu, harga perporsi bervariasi antara Rp 25.000 s.d Rp 50.000. Tetapi harga makanan itu sesuai dengan kelezatan yang akan diperoleh ketika makanan ini menyentuh lidah.

Kuliner di Amuntai juga didukung dengan masyarakatnya yang memang doyan makan di warung. Sehingga, warung-warung makanan tumbuh subur dan menjamur tanpa kehilangan pembeli.

Selain itu, Amuntai juga terkenal dengan ‘cake market’ alias pasar pasar kue/wadai. Segala macam jajanan berupa wadai tradisional ada di pasar yang buka setiap pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore ini. Mulai dari cucur, apem, bingka, sampai tapai. Bahkan ada makanan berupa alua (manisan) pepaya dan ‘kundur’ (sejenis labu putih). Alua ini bisa disimpan berbulan-bulan, biasanya ramai dipesan bila tiba musim kawin karena alua ini dapat diolah menjadi berbagai bentuk dan diletakkan berdampingan dengan kue pengantin.  Amuntai juga terkenal dengan gula-gula yang berbentuk kapal layar, itik dengan anak-anaknya, bunga, dan bentuk lainnya. Gula-gula ini juga ramai dipesan apabila tiba musim kawin, karena fungsinya sama dengan alua. Bahkan, dengan bentuk, warna yang menarik, dan rasanya yang manis legit gula-gula ini juga menjadi ciri khas yang tidak ada di daerah lain. Tertarik?

Masih tentang makanan, Amuntai juga terkenal dengan kerupuk haruan (ikan gabus), dan itik yang diawetkan berupa dendeng itik yang sangat lezat dan dapat dijadikan oleh-oleh berkunjung ke Amuntai.

Amuntai, kota kecil yang terus menggeliat dalam pembangunan. Kaya dengan makanan tetapi juga terkenal dengan industri lampit rotan dan pembuatan lemari.

Berkunjunglah, andai sempat dan punya waktu, sahabat akan menemukan nuansa yang berbeda di kota ini yang terkenal dengan kota Bertakwa.

Desember 14, 2009 Posted by | artikel | 4 Komentar

musim ke sekian

hujan turun lagi
berjingkrak…ke sekian kali
tanah yang merekah tersipu malu
hujan menyapa sepenuh daya

di hulu sungai mulai menguap pelan
sambil ngantuk menghayutkan segala
sambil berlabuh bertemu sang pujaan
tak terpikir hilir adalah muara yang belum sampai ke tengah…

di pertemuan keduanya…
luapan telah menenggelamkan rindu…
pelukan mesra menjadi tangis bahagia

hujan masih riang tertawa
menyaksikan air pelan-pelang
menguburkan semua

banjir menjadi akhir yang sepi

Desember 10, 2009 Posted by | catatan pendek, puisi | 2 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.