Merasai Hujan Musim Semi
Merasai hujan musim semi adalah mencecap air telaga surga yang hadir selintas
hangat dan menyegarkan
melibas segala yang pernah terlalui hingga lupa
dulu entah apalah yang pernah berwarna
ataukah…
musim semi juga pernah singgah
dan…
hujan juga beranjangsana
merasai…dan kemudian mencecap hujan musim semi
membuat hati kembali merah jambu
entah apalah kini yang mesti terwarnai lagi
saat hujan musim semi
….
SEANDAINYA?
Seandainya ada tablet keabadian
Aku ingin menelannya
Abadi dalam ketidakwarasan
Abadi dalam ketidakmengertian
Abadi dalam segala yang tak bisa kupahami
Seandainya ada lorong waktu
Aku ingin menyusurinya,
Agar dapat kembali ke hulu
Melebur diri dalam kawah candradimuka
Melepuh, mengelupas segala sisa karat nista
Seandainya bisa,
Maukah Kau tetap menyapaku?
Musim Semi
Dari tepi langit
kabut menyebar rata di bumi
dipeluknya yang dingin kuremas erat resahku
kau…
hanya sunyi
pergimu telah memulangkan segalanya..
…
Ketika Hati Tak Mampu Menjawab
Pagi, yang masih sebenar-benarnya, aku telah bangun dan mempersiapkan segalanya. Hari ini menjadi pembicara di sebuah seminar kewanitaan benar-benar membuat nervous, entah mengapa? Mungkin ini karena menjadi satu-satunya pembicara, atau juga temanya yang lumayan sulit, meskipun sudah digembor-gemborkan sekian waktu lalu, tentang Emansipasi Wanita.
Seperti sudah kuduga sebelumnya, pertanyaan seputar ‘pemimpin wanita, poligami, dan masalah krusial lainnya yang berhubungan dengan wanita menjadi hal yang menarik bagi peserta seminar untuk diperdebatkan.
Ketika tersisa waktu sekitar setengah jam, tiba-tiba seorang perempuan peserta seminar berdiri. Rupanya dia masih mau bertanya, moderator memberikan kesempatan.
Sewaktu bertanya, perempuan itu terlihat bergetar, bahkan meneteskan airmata. Peserta terdiam. Pertanyaan itu ternyata tentang keadaannya dalam rumah tangga, tentang kekerasan yang dialaminya, dari segi ekonomi, fisik, dan hatinya yang terluka parah. Sementara itu, dia telah berusaha mengajak pasangannya untuk berkomunikasi, memberi kesempatan berulang-ulang, dan selalu berbakti sebagai istri.
Aku terdiam, bagaimana menjawab sesuatu yang aku tidak menyiapkan jawabannya. Haruskah menyuruhnya berpisah, sementara itu adalah pekerjaan yang dibenci Allah. Memintanya untuk berkomunikasi dengan pasangannya, padahal hal itu sudah dilakukannya berulang-ulang. Akhirnya, setelah aku berpikir sejenak, aku menyuruhnya bersabar, semoga itu adalah ladang ibadah bagi dirinya, dan Yang Mahakuasa akan membalas dengan berlipat ganda kebaikan. Padahal, sesejujurnya jawabanku tersebut sangat bertentangan dengan nuraniku. Aku ingin dia berpisah saja, mengapa harus membiarkan diri terzhalimi dan dizhalimi, tetapi aku tak mampu mengeluarkan jawaban itu. Kupilih jalan aman, agar dia tidak merasa terprovokasi, kubiarkan dia berpikir dulu, karena segala sesuatu ketika tiba pada waktunya, pasti jalan keluar terbaik akan datang menghampiri.
Semoga….
Catatan yang Sempat Tercatat Sepanjang Menjejak Kampus 1
Hari ini…terlambat 15 menit mengajar di kampus, untungnya mahasiswa masih setia menunggu karena sudah ada janji UTS. Alasan terlambatnya, biasa saja. Ada tamu, yang segan kalau ditinggalkan pergi…yach..klise uey.
UTS, berlangsung tenang…mahasiswa-mahasiswa perempuan ini hampir tak ada suaranya, serius sekali. Kalaupun ada yang nyontek pasti ketahuan…tapi sengaja kubiarkan karena tidak mungkin juga. Seluruh soal harus mereka jawab dengan menggunakan pikiran dan penalaran masing-masing.
Sembilan puluh menit kemudian, suara mahasiswa sudah mulai agak rame, rupanya sebagian besar sudah selesai dan maunya cepat-cepat pulang.
Mahasiswa hampir habis, tinggal satu orang yang masih mengerjakan. sesekali memperhatikan jam yang ada pegelangan tangannya. waktu memang sudah hampir pukul enam sore.
“Pulang ke mana?” tanyaku tiba-tiba.
“Jauh, Bu.” Jawabnya pelan. ‘Mengapa tidak nyewa atau ngontrak di Amuntai saja? Lebih dekat dan tidak terburu-buru kalau berangkat ke Kampus.”
“Sulit Bu, ortu saya tidak mau terpisah. Mereka masih kangen dan ingin bersama saya.”
“Lho, selama ini ortumu di mana?”
“Di luar negeri, Bu. sepuluh tahun ayah dan ibu saya di sana. selama ini saya tinggal dengan nenek saya saja. sekarang mereka sudah datang jadi tidak mau berpisah dengan saya.”
“Syukurlah, kalau begitu.”
“Tetapi saya lagi pusing Bu.”
“Mengapa?” Sambil memasukan hasil pekerjaan siswa, saya bertanya dengan setengah heran.
“Ayah saya mau menikah lagi.”
“Lho, kok bisa?”
“Nggak tahu Bu. Tapi saya dengan ibu tak masalah. Biar saja, yang penting ayah bahagia.”
Sesaat saya termangu. Sederhana sekali. Yang penting ayah bahagia, katanya. Terus kebahagian mereka bagaimana? Entahlah. Barangkali kebahagian itu ketika melihat ayahnya bahagia.
Sepanjang perjalanan menuju pulang, percakapan dengan mahasiswa itu terngiang terus. Tetapi mungkin begitulah hidup yang akan selalu berjalan bersama segala yang akan terjadi. Semoga saja mahasiswa tadi tabah dan tetap terus kuliah. Biar dia dapat menunjukkan pada dunia bahwa dia berhasil mecapai segala impian dan harapannya.
Wisata Kuliner di Amuntai
Beranjangsana ke kota Amuntai tak cukup hanya dengan menikmati suasana kotanya saja. Wisata kuliner menjadi tujuan yang wajib dilakukan. Begitu masuk kota, pemandangan yang tersuguh adalah sebuah ikon kota berupa itik alabio yang badannya jauh lebih besar dari kerbau rawa. Aneh? Tidak juga. Karena sedari dulu Amuntai sudah dikenal dengan itik alabionya, sedangkan kerbau rawa dikenal di daerah Babarawa, yang disering mengadakan lomba kerbau rawa.
Amuntai, dengan ikon itik alabio, terkenal dengan itik panggang dan itik goreng, satu lagi yang terfavorit tetapi sering terlupa menyebutnya adalah belibis panggang dan belibis goreng. Lezat? Sangat luar biasa. Sekali-sekali datanglah sahabat berkunjung ke Amuntai. Setiap warung makanan, biasanya menyajikan menu itik panggang/goreng, tetapi untuk belibis jarang karena belibis termasuk burung yang sekarang agak langka (mungkin karena sering diburu dan ditangkap sementara budidayanya cukup sulit). Belibis panggang/goreng hanya ada pada warung-warung tertentu, harga perporsi bervariasi antara Rp 25.000 s.d Rp 50.000. Tetapi harga makanan itu sesuai dengan kelezatan yang akan diperoleh ketika makanan ini menyentuh lidah.
Kuliner di Amuntai juga didukung dengan masyarakatnya yang memang doyan makan di warung. Sehingga, warung-warung makanan tumbuh subur dan menjamur tanpa kehilangan pembeli.
Selain itu, Amuntai juga terkenal dengan ‘cake market’ alias pasar pasar kue/wadai. Segala macam jajanan berupa wadai tradisional ada di pasar yang buka setiap pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore ini. Mulai dari cucur, apem, bingka, sampai tapai. Bahkan ada makanan berupa alua (manisan) pepaya dan ‘kundur’ (sejenis labu putih). Alua ini bisa disimpan berbulan-bulan, biasanya ramai dipesan bila tiba musim kawin karena alua ini dapat diolah menjadi berbagai bentuk dan diletakkan berdampingan dengan kue pengantin. Amuntai juga terkenal dengan gula-gula yang berbentuk kapal layar, itik dengan anak-anaknya, bunga, dan bentuk lainnya. Gula-gula ini juga ramai dipesan apabila tiba musim kawin, karena fungsinya sama dengan alua. Bahkan, dengan bentuk, warna yang menarik, dan rasanya yang manis legit gula-gula ini juga menjadi ciri khas yang tidak ada di daerah lain. Tertarik?
Masih tentang makanan, Amuntai juga terkenal dengan kerupuk haruan (ikan gabus), dan itik yang diawetkan berupa dendeng itik yang sangat lezat dan dapat dijadikan oleh-oleh berkunjung ke Amuntai.
Amuntai, kota kecil yang terus menggeliat dalam pembangunan. Kaya dengan makanan tetapi juga terkenal dengan industri lampit rotan dan pembuatan lemari.
Berkunjunglah, andai sempat dan punya waktu, sahabat akan menemukan nuansa yang berbeda di kota ini yang terkenal dengan kota Bertakwa.
musim ke sekian
hujan turun lagi
berjingkrak…ke sekian kali
tanah yang merekah tersipu malu
hujan menyapa sepenuh daya
di hulu sungai mulai menguap pelan
sambil ngantuk menghayutkan segala
sambil berlabuh bertemu sang pujaan
tak terpikir hilir adalah muara yang belum sampai ke tengah…
di pertemuan keduanya…
luapan telah menenggelamkan rindu…
pelukan mesra menjadi tangis bahagia
hujan masih riang tertawa
menyaksikan air pelan-pelang
menguburkan semua
banjir menjadi akhir yang sepi
-
Arsip
- September 2010 (1)
- Mei 2010 (1)
- April 2010 (1)
- Desember 2009 (7)
- Mei 2009 (1)
- Februari 2009 (3)
- Januari 2009 (2)
- Agustus 2008 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS