Ketika Hati Tak Mampu Menjawab
Pagi, yang masih sebenar-benarnya, aku telah bangun dan mempersiapkan segalanya. Hari ini menjadi pembicara di sebuah seminar kewanitaan benar-benar membuat nervous, entah mengapa? Mungkin ini karena menjadi satu-satunya pembicara, atau juga temanya yang lumayan sulit, meskipun sudah digembor-gemborkan sekian waktu lalu, tentang Emansipasi Wanita.
Seperti sudah kuduga sebelumnya, pertanyaan seputar ‘pemimpin wanita, poligami, dan masalah krusial lainnya yang berhubungan dengan wanita menjadi hal yang menarik bagi peserta seminar untuk diperdebatkan.
Ketika tersisa waktu sekitar setengah jam, tiba-tiba seorang perempuan peserta seminar berdiri. Rupanya dia masih mau bertanya, moderator memberikan kesempatan.
Sewaktu bertanya, perempuan itu terlihat bergetar, bahkan meneteskan airmata. Peserta terdiam. Pertanyaan itu ternyata tentang keadaannya dalam rumah tangga, tentang kekerasan yang dialaminya, dari segi ekonomi, fisik, dan hatinya yang terluka parah. Sementara itu, dia telah berusaha mengajak pasangannya untuk berkomunikasi, memberi kesempatan berulang-ulang, dan selalu berbakti sebagai istri.
Aku terdiam, bagaimana menjawab sesuatu yang aku tidak menyiapkan jawabannya. Haruskah menyuruhnya berpisah, sementara itu adalah pekerjaan yang dibenci Allah. Memintanya untuk berkomunikasi dengan pasangannya, padahal hal itu sudah dilakukannya berulang-ulang. Akhirnya, setelah aku berpikir sejenak, aku menyuruhnya bersabar, semoga itu adalah ladang ibadah bagi dirinya, dan Yang Mahakuasa akan membalas dengan berlipat ganda kebaikan. Padahal, sesejujurnya jawabanku tersebut sangat bertentangan dengan nuraniku. Aku ingin dia berpisah saja, mengapa harus membiarkan diri terzhalimi dan dizhalimi, tetapi aku tak mampu mengeluarkan jawaban itu. Kupilih jalan aman, agar dia tidak merasa terprovokasi, kubiarkan dia berpikir dulu, karena segala sesuatu ketika tiba pada waktunya, pasti jalan keluar terbaik akan datang menghampiri.
Semoga….
Belum ada komentar.
Tinggalkan Balasan
-
Arsip
- September 2010 (1)
- Mei 2010 (1)
- April 2010 (1)
- Desember 2009 (7)
- Mei 2009 (1)
- Februari 2009 (3)
- Januari 2009 (2)
- Agustus 2008 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS