Hatmiati's Weblog

belajar memaknai hidup melalui tulisan yang hadir selintas-selintas

BUKAN SEKEDAR CINTA (part 1)

BUKAN SEKEDAR CINTA

Cerpen ini terinsiprasi dari keteguhan hati seorang perempuan yang rela membagi cinta suaminya dengan orang lain. Ada satu hal mendasar, bahwa dalam kehidupan ini, ternyata yang kita hadapi bukan hanya masalah cinta hitam putih. Tetapi, bagaimana kita memaknai hidup agar menjadi lebih berarti dan tidak pernah menghujat jalan hidup yang telah ditakdirkan Tuhan terhadap kita. Tugas kita hanya berusaha dan berdoa, tetapi hasil akhir selalu ditentukan oleh Yang mahakuasa.

 

PART 1

Alina menatap gamis biru laut dengan kembang-kembang putih itu, dia tersenyum sendiri. Terbayang seminggu lagi dia akan menikah. Tetapi dengan orang yang tak pernah terlintas dalam benaknya. Orang yang justru menyaksikan perjalanan nasib memainkannya. Dan kini, dia ingin turut bermain di dalamnya. Alina memang menyambut uluran kasih itu, tidak dengan suka cita memang, tetapi sempat memercikkan secercah bahagia di mimpinya.

Dua hari sebelum pernikahan. Rumah Alina terlihat semarak, beraneka macam kembang mewarnainya, ditambah rangkaian janur kuning yang melambai-lambai di tepi jalan. Semarak, indah, dan meriah.

Di ruang keluarga, Alina dikelilingi teman-temannya, mereka sibuk melulur tubuh Alina dengan lulur berwarna merah pekat, kuning kental, dan asam jawa. Alina memasrahkan tubuhnya, namun di matanya yang berkabut terlihat jelas pikirannya tak berada di tempatnya. Cekikikan teman-temannya yang berusaha mencandainya tak terekam dalam memori otaknya. Kintan menjawil hidungnya.

“Al, kamu kenapa sih, dari tadi bengong aja? Ini kan hari bahagiamu.”

“Oh, eh, nggak apa-apa. Aku, aku cuma lagi menikmati luluran kalian aja.” Alina tergagap menjawab.

“Jangan bohong Al, kami tau kok kamu menyembunyikan sesuatu. Ada apa sih, sama teman sendiri jangan rahasia-rahasian.” Ratna menatap Alina tajam.

Alina terdiam sejenak, dia tahu merahasiakan sesuatu dari teman-temannya hanya akan membuat mereka semakin penasaran. Tetapi, saat ini bukan waktu yang tepat untuk berterus terang, Alina lebih memilih bungkam.

Senja mulai beranjak pulang, Alina memaku diri di tepi jendala. “Dua hari lagi,” pikirnya galau. Alina menatap keremangan senja yang membius dan mengantarkannya pada sebersit ingatan tentang calon suaminya. Mendung sedang melumuri langit Banjarmasin ketika itu.

Alina berlari cepat menyeberang jalan, dia seharusnya lewat zebra cross, tapi tanggung, toko yang mau ditujunya tepat di depan jalan, sementara zebra crossnya masih kurang lebih dua puluh meter lagi. Tepat ketika Alina masuk toko, hujan menguyur bumi tanpa permisi. Alina bersyukur karena tidak lupa membawa payung dalam tasnya. Ketika asyik memilih dan mencium cologne, sentuhan ringan di pundaknya sungguh mengagetkan. Masih untung Alina tidak berteriak. Bram, lelaki yang menyentuhnya, tersenyum manis. Matanya bersinar jenaka, tangannya malah dengan santai memeluk Alina.

“Apa-apaan sih Bram, nggak lucu, tahu nggak? Untung aku tidak jantungan, kalo nggak kamu akan bertanggung jawab sama bunda dan bapakku.” Alina mencak-mencak marah dan melepaskan diri dari Bram.

Bram, Bramantio tepatnya. Lelaki yang baru saja diwisuda sebulan yang lalu, sarjana pendidikan sudah berada di belakang namanya yang cuma satu kata. Lelaki berperawakan sedang, berwajah kalem, dan bermata setengah mengantuk. Dia menangkupkan tangannya di depan dadanya dan menatap Alina sambil meminta maaf, tapi Alina tahu mata yang setengah mengantuk itu tengah mentertawakannya. Alina berjalan cepat ke bagian kasir. Belum lagi sampai, tubuhnya telah tertahan, tangan Bram memegang tangannya. Erat.

Please Al, tunggu aku. Aku cuma ingin sekadar berbincang denganmu. Jangan marah, ya.” Bram memohon. Alina terdiam, pelan dilepaskannya tangan Bram, ditatapnya lelaki di depannya.

“Bram, di depan ada café, kita ke sana aja ya!” Bram mengangguk cepat, diambilnya belanjaan Alina dan berjalan menuju kasir. Alina hanya bisa menghela nafas, dibiarkannya Bram melakukan yang diinginkannya. Sepuluh menit kemudian mereka telah duduk di café, menghadapi dua buah orange juice.

Ada apa sih Bram? Jangan cuma menatapku gitu, aku kan malu diliatin seperti itu.” Alina membuang pandangannya ke arah jalanan yang masih menyisakan gerimis.

“Al, aku tak tahu harus bilang apa. Tetapi, aku yakin kamu pasti tahu bagaimana perasaanku padamu. Rasanya tak perlu kujelaskan lagi. Aku, aku menderita karenanya. Tetapi mau bagaimana lagi, kamu sudah menikah sekarang, sedangkan aku sendiri, berkhayal menemukan pengganti dirimu. Dari ujung ke ujung penantianku, yang ada hanya kesunyian. Besok, aku akan ke Malang melanjutkan kuliahku. Pergi, dan berharap semoga dinginnya kota Malang mampu membekukan kerinduanku padamu. Dan, jujur aku juga berharap menemukan seseorang yang bersedia mendampingiku. Al, sebelum aku berangkat, aku juga ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaanmu padaku. Tolong, jawab pertanyaanku Al!” Kalimat-kalimat panjang terlisankan seperti berlomba dengan gerimis.

Alina tertegun, dia mengerti betul apa yang dirasakan Bram padanya, tetapi semuanya tak mungkin. Alina teringat buah hatinya yang menunggu di rumah kontrakannya. Tak dijawabnya perkataan Bram. Dia berlalu, tergesa menyetop angkot dan menenggelamkan diri di dalamnya. Sementara itu, Bram menatap kepergiannya dengan pilu. Alina memalingkan muka, berusaha melebur haru yang membuncah di dadanya.

Bram, lelaki terdekat dan tempat dia mencurahkan hatinya. Lelaki yang kemudian mencintainya, tetapi Alina berkeras mereka cuma bersahabat. Hingga suatu ketika, dia memutuskan untuk memilih Mahesa, lelaki yang cuma dikenalnya selama tiga puluh hari liburanya di Yogya. Padahal, kuliahnya baru tingkat dua.

Bram berteriak kaget saat dia mengabarkan bahwa dia akan menikah. Tembok kamar kosnya menjadi sasaran lukisan abstrak Bram dengan tinjunya yang menyisakan aroma anyir darah. Dia baru berhenti ketika nyeri itu sudah tak tertahankan lagi. Bram menangis tersedu seperti anak kecil.

“Ini bohong kan Al, ini cuma bercanda kan?” Ditatapnya Alina dengan perasaan yang sulit terejawantahkan. Alina cuma menggeleng, kemudian pelan disentuhnya tangan Bram. Setelah itu, Alina beranjak dan menaruh undangan berwarna biru muda di meja Bram. Dia pulang. Tanpa menoleh. Penikahannya memang berlangsung. Meriah. Tetapi, hati Alina terluka parah karena Bram.

Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Alina. Dilihatnya Sabina membawa segelas susu untuknya.

“Mah, Mamah kenapa? Ini Sabina bawain susu Mah.”

“Terima kasih, Sayang. Mama tidak apa-apa. Sabina udah maem? Udah sholat?” Alina mengelus kepala anaknya dengan sayang, diambilnya susu di tangan Sabina dan diminumnya pelan.

“Sudah Mah, Sabina juga sudah mengaji. Mamah yang belum sholat?”

“Ya, Allah. Benar sayang. Mama sholat dulu ya.” Alina bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat magrib di waktu yang tersisa.

Matahari mulai membagikan cahayanya ke segala penjuru ketika Alina telah berdandan rapi. Jilbab merah marun dengan gamis hitam polos menjadi pilihannya. Di pintu, Bundanya mencegatnya.

“Mau ke mana Alina, besok kamu menikah, kamu tidak boleh ke mana-mana!”

“Bunda, Alina cuma sebentar.” Sahut Alina.

“Iya, Bunda tahu. Tapi, seseorang yang sudah mendekati hari pernikahannya tidak boleh lagi keluyuran. Jadi, Alin tidak boleh pergi.” Tegas Bunda Alina.

“Jangan tahan Alin, Bunda. Sebentar saja.” Alina memohon pada Bundanya.

“Tapi Al, besok kamu nikah, Sayang. Tolong jangan kacaukan semuanya.”

Alina tak menghiraukan perkataan Bundanya. Dia bergegas pergi, sebelum matahari benar-benar menunaikan tugasnya. Di angkot yang ditumpanginya Alina tak henti-hentinya berpikir. Dia benar-benar bodoh telah mengiyakan permintaan Bram untuk menikah. Sementara, dia belum lagi tuntas menambal sulam balur-balur luka akibat pernikahannya yang gagal. Dia masih trauma. Dia juga belum bisa berdamai dengan perasaannya, sekarang Bram datang dan turut campur memporakporandakan pertahanan hatinya. Alina menghubungi Bram di ponselnya, dia ingin bertemu, dia ingin membatalkan segalanya.

Bram dan Alina bertemu di sebuah kedai kopi di pinggiran kota. Selama tiga puluh menit mereka mematung tanpa bicara. Alina hanya menatap lelaki di depannya. Lelaki yang sudah sewindu lebih tidak pernah menghubunginya, sampai suatu ketika undangan perkawinan yang dirayakan Bram di Malang tiba di pangkuannya. Bram masih mengingatnya. Tetapi, dua belas musim setelah penikahannya kini Bram berada di depannya setelah sebulan yang lalu mereka bertemu tanpa sengaja. Bram kemudian melamarnya, menjanjikan cinta yang tak sempat diluahkannya dulu. “Bodoh, betul-betul bodoh,” rutuknya dalam hati, kenapa diterimanya lamaran itu. Bram memang masih sekalem dulu, dengan pakaian berwarna coklat muda, dia sungguh terlihat benar-benar matang. Namun, tatapan mata setengah mengantuk itu tak pernah berubah.

“Al, ada apa? Udah tak sabar ya? Besokkan kita menikah sayang, untuk apa kita bertemu hari ini? Nggak boleh lho. Pamali. Seharusnya kamu dipingit.” Bram menatap Alina dengan senyum. Dia benar-benar sayang dengan wanita ini. Enam belas musim yang dilaluinya tak pernah bisa merubah perasaannya pada Alina, meskipun kini dia telah memiliki pendamping yang telah memberinya seorang jagoan. Tetap, tetap saja perasaan itu ada.

“Bram, aku tidak bisa menikah denganmu. Aku tidak bisa menghianati Mbak Santi istrimu. Dia baik Bram, kenapa harus kita sakiti hatinya, hanya demi cinta kita?” Alina menghela nafas panjang.

“Apa maksudmu Al? Membatalkan pernikahan ini? Nonsens Al, aku sudah menyiapkan segalanya.” Bram menyahut geram. Alina terdiam, dia benar-benar bingung. Otaknya tidak bisa diajak kompromi untuk berpikir.

“Tapi Bram, tak ada yang kurangkan dari Mbak Santi? Ayolah Bram, batalkan penikahan ini. Aku takkan bisa menikah denganmu, sementara istrimu menangis sendirian di rumah, meratapi kemalangannya.”

“Al, baiklah aku akan cerita. Sebenarnya aku ingin menyampaikan ini setelah kita menikah, tetapi melihat kekeraskepalaanmu, aku takkan berani menanggung resiko gagalnya penikahan kita. Sebenarnya Santi sudah tahu kita akan menikah, bahkan dia yang banyak memberi support supaya aku menikah denganmu setelah kita bertemu sebulan yang lalu. Al, kalau kau berpikir aku menikahimu semata-mata karena cinta, aku takkan melakukannya. Selama ini, Santi berhasil mendampingiku dan menerima apa adanya diriku. Dia tidak pernah berputus asa membangkitkan semangat hidupku dan semua itu harus kubayar lunas dengan membahagiakannya. Dia juga tahu bagaimana perjalanan hubungan kita, tak ada yang kurahasiakan darinya. Dan, dia pula yang paling berbahagia ketika aku memutuskan untuk pulang dan menerima kerja di Banjarmasin.. Sebulan yang lalu aku bercerita padanya telah bertemu denganmu dan tanpa sengaja menceritakan bagaimana keadaanmu sekarang, tiba-tiba dia punya gagasan aneh supaya aku menikah denganmu. Awalnya aku marah-marah dengannya, mengapa memberi usul yang tidak masuk di akal…”

“Tapi Bram…”

Please Al, jangan potong perkataanku. Awalnya mungkin benar dia main-main, tetapi selama seminggu lebih setelah pembicaraan kami, dia mencari tahu tentangmu. Perceraianmu, kehidupanmu sekarang, Sabina anakmu, semuanya dia cari tahu, sehingga akhirnya aku menerima usulnya untuk menikah denganmu. Al, kamu masih mendengarkanku kan?” Bram menggoyangkankan tangannya di depan muka Alina yang terpaku. Dia tidak tahu apa yang berkecamuk dalam benak wanita di depannya. Dalam kilau matahari yang baru seujung tombak, Alina sungguh menarik. Jilbab merah marun yang dipakainya membiaskan cahaya di raut mukanya yang pucat.

Sementara Alina tersedot dalam labirin kenangan bersama Mahesa. Dia memang berhasil lulus kuliah, tetapi setelah menghabiskan dua belas semestar. Beruntung, Allah SWT memberinya teman-teman terbaik, sekaligus menyayanginya dengan kasih berlimpah yang selalu menjadi dian kehidupan ketika semangatnya hampir padam.

 

 

 

Iklan

Agustus 12, 2008 - Posted by | cerpen, prosa | , , , ,

9 Komentar »

  1. Wew!
    Ditunggu part 2 nya ya…….. 🙂

    he he he…coba-coba ja…mudahan bisa dilanjutkan…eh jadi kalo titip buku…minggu mungkin baru balik lagi ke amuntai.

    Komentar oleh suhadinet | Agustus 12, 2008 | Balas

  2. mantap buk lanjutkan tuhhhh

    Komentar oleh imoe | Agustus 17, 2008 | Balas

  3. Kok gak diupdate bu?

    pak….dah dicari-cari pesanannya karya pram…udah gak ada lagi. sorry yach…entar deh kalo ada. ne masih di jkt.

    Komentar oleh suhadinet | Agustus 22, 2008 | Balas

  4. tulisannya keren bu, semangat…

    hai…maaf banget baru connect lagi…nanti part 2 nya ditampilkan lagi soale baru aja kelar. thank ya…

    Komentar oleh hoi | Agustus 22, 2008 | Balas

  5. Woi!

    Komentar oleh suhadinet | Oktober 2, 2008 | Balas

  6. Lanjutannya mana… bu???

    Komentar oleh alkirmany | Desember 12, 2008 | Balas

  7. hmm… saya sedang memulai Part I. Bagus mbak.
    Besok dilanjut lagi Part 2. 🙂

    Komentar oleh mascayo | Januari 20, 2009 | Balas

  8. *selesai bagian pertama*

    Komentar oleh marshmallow | Februari 2, 2009 | Balas

  9. dah ada lanjutannya bu??

    Komentar oleh isnie miyanti | Mei 30, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: