Hatmiati's Weblog

belajar memaknai hidup melalui tulisan yang hadir selintas-selintas

Bukan Sekedar Cinta (Part 3)

PART 3
Berkali-kali panggilan itu terdengar, bahkan gedoran di pintu kamarnya. Alina tetap sesegukkan dengan tangisnya. Tetapi, kemudian dia bergerak pelan membuka pintu. Bundanya menerobos masuk.
“Al, sudah sayang, kita harus ke rumah sakit Ulin sekarang.” Ibunya memeluknya erat. Alina terkesima, dia bingung, sambil berjalan dalam pelukan ibunya, Alina masih tidak mengerti yang terjadi. Sesampainya di rumah sakit, Alina baru sadar rombongan pengantin lelakinya telah kecelakaan.
“Di mana Bram, Bu? Bagaimana keadaannya?” Alina bertanya sambil menangis. Di ujung lorong rumah sakit, dokter yang berjalan tegesa-gesa berhenti di dekat Alina.
“Menanyakan siapa Bu?”
“Bram, Dok, rombongan pengantin yang kecelakaan di jalan Samudera.” Ibu Alina menyahut.
“Oh itu, di kamar 21 Melati, Bu.” Dokter itu berlalu.
Alina setengah berlari ke kamar itu, ketika sampai dia terpaku menyaksikan Bram dan Santi di ruang itu. Dengan muka sepucat mayat Alina menghampiri ranjang Bram dan Santi yang berdampingan. Pengantinnya dan istrinya sekarat, Alina tak sempat berpikir, dia menggenggam tangan keduanya, sambil menangis tanpa suara. Alina ditarik ibunya keluar kamar. Bram dan istrinya akan segera di operasi. Tiga jam lebih Alina menunggu. Air matanya seperti tak mau berhenti mengalir. Di ujung keputusasaan menunggu, ruang UGD terbuka. Para dokter yang menanganinya keluar.
“Siapa keluarga pasien? Ikuti saya ke ruangan.” Dokter itu kemudian berjalan menuju ruangannya. Salah seorang keluarga Bram mengikuti dokter.
Setengah jam kemudian, Bram terdengar merintih. Bibirnya komat-kamit menyebut nama Alina. Perawat yang menjaganya kemudian memanggil Alina. Di ruangan itu, Alina terguguk di samping Bram. Tak ada kata yang mampu keluar dari mulutnya. Menatap Bram dalam balutan perban-perban putih, membuat Alina seperti bercanda dengan maut.
“Al, maukah menjaga Faisal untukku?” Bram berbisik lirih. Alina mengangguk cepat. Diletakkannya telunjuknya di bibir Bram. Sesaat kemudian, Bram pergi menemui Penciptanya. Setengah jam setelah itu, Santi yang dalam keadaan koma menyusulnya. Lelangut kesedihan mengepung Alina dari segala penjuru, dia merasa pandangannya gelap. Dia baru sadar keesokan harinya. Di rumah sakit yang sama dengan Bram dan Santi. Mereka telah mendahuluinya. Alina bangkit dari tempat tidurnya, dilihatnya bunda dan bapaknya di samping tempat tidur. Sementara itu, beberapa orang keluarga Bram yang ikut dalam rombongan pengantin hanya menderita luka-luka dan sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan tiga orang lainnya masih dalam perawatan dokter, termasuk sopir yang masih dalam keadaan tidak sadar.
“Bu, bagaimana keadaan Faisal?” Alina bertanya lemah.
“Alhamdulillah, Faisal berhasil diselamatkan. Sekarang masih dalam perawatan dokter, tetapi sudah boleh ditengok.”
“Bu, aku mau menemui Faisal, aku ingin menemuinya.” Kali ini Alina menangis sekeras-kerasnya.
“Iya sayang, sabar, nanti kita akan ke kamar Faisal.” Ibunya merangkulnya erat. Kepedihan berbaur dengan aroma duka.
Senja mulai merapatkan jalanya ketika Alina dan ibunya berada di rumah Bram. Rumah yang penuh orang-orang yang melayat dan bertakziah atas kematian suami istri yang baik itu. Alina membisu, tak sepatah kata terlontar dari lisannya. Hanya air mata yang jatuh satu-satu di surah Yasin yang dibacanya. Selepas sholat Magrib, Alina dan ibunya meninggalkan rumah Bram. Alina berpisah dengan ibunya, dia ke rumah sakit, menemani Faisal, sedangkan ibunya kembali ke rumah, membereskan keadaan rumahnya. Alina juga tidak sempat bertemu Sabina hari ini. Sesampainya di rumah sakit, di kamar Faisal, Alina terpaku memandang bocah berusia lima tahun itu. Hatinya nyeri membayangkan Faisal yang kini yatim piatu. Pelan dibelainya rambut Faisal, kasihnya menyeruak tanpa tercegah. Tengah malam Faisal terbangun kesakitan, suara erangannya membuat Alina terkejut, kantuk yang menyerangnya lenyap entah ke mana. Dipeluknya Faisal dengan sayang, tak lama bocah itu kembali terlelap.
Tujuh hari di rumah sakit, tubuh Alina menyusut, kulitnya pucat, tetapi matanya berseri-seri laksana matahari di ufuk timur. Kedekatannya dengan Faisal telah mengalirkan adrenalin dalam sel tubuhnya. Faisal, Faisal yang telah diizinkan keluarganya tinggal dengan Alina, sesuai dengan amanat Bram. Diterimanya anak itu dengan segenap kasih yang dia punya. “Jagoanku”, kata Alina giris. “Bram dan Santi telah meninggalkannya untukku, aku akan merawatnya. Kini hidupku telah lengkap, aku sudah punya perempuan, Sabina, dan Faisal lelakinya, aku tak perlu orang lain lagi”, pikirnya. Alina pulang ke rumahnya di hari kesembilan, bersama Faisal yang disambut Sabina dengan suka cita.
Setelah peringatan seratus hari kematian Bram dan Santi, Alina dan kedua bocah terkasihnya pergi ke makam Bram dan Santi, mereka berziarah sekaligus berpamitan untuk kembali ke tempat tugas Alina. “Izinkan Faisal bersamaku, menggantikan dirimu Bram”, bisik Alina lirih.
“Mama, di sini bunda dan ayahku ya? Mereka ngapain mama? Kok tidul ditimbun tanah begini?” Suara cadel Faisal memecahkan suasana sepi. Belum sempat Alina menjawab, tiba-tiba, bocah itu menjatuhkan diri di antara makam ayah dan ibunya. Menangis dengan keras. Alina tersentak. Cepat diangkatnya Faisal.
“Sayang, sudah ya Sayang. Ayah sama Bunda pasti sedih kalau melihatmu menangis. Ayah sama Bunda sudah berada di surga. Mereka sayang sekali dengan Faisal. Sekarang Faisal ikut Mama Alin aja, sama Kakak Sabina juga, ya?”
Bocah lelaki itu mengangguk.
“Tapi, nanti kita ke sini lagi kan Ma?” Cepat Alina mengangguk. airmata mulai mengalir lagi di pipi Faisal. Alina menahan nyeri di hatinya. Cepat diraihnya tangan Sabina. Mengajaknya berlalu.
Matahari naik sepenggalahan membentuk siluet tiga tubuh yang meninggalkan kompleks pemakaman. Jauh dan semakin jauh.
***

Menjelang dinihari, Peb ’09

Batimung: Mandi sauna dengan uap rempah-rempah.

Iklan

Februari 5, 2009 - Posted by | catatan pendek |

2 Komentar »

  1. duh, bu guru. ceritanya jadi mangharukan. mungkin bu guru mau mengangkat kisah tentang cinta sejati antara bram dan santi, ya? cinta yang sehidup semati. tidak ada yang dikecewakan, hanya ditinggalkan dan ikhlas.
    tapi kenapa tulisan ini di-submit dua kali, ya?

    Komentar oleh marshmallow | Februari 10, 2009 | Balas

  2. Mengaharukan…

    Komentar oleh Alina Kharisma | Mei 22, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: