Hatmiati's Weblog

belajar memaknai hidup melalui tulisan yang hadir selintas-selintas

CINTA ITU LUKA

“Jadi? Kita selingkuh, ya, Pak?” Mareta bertanya bingung.
Lelaki awal empat puluhan itu tersenyum. Ditatapnya Mareta dengan sayang.
“Tidak.”
“Terus?”
“Saya memang suka sekali denganmu. Sayang. Cinta. Tetapi, saya tidak akan mengajakmu selingkuh.”
“Jadi?”
“Saya cuma menyampaikan perasaan yang saya punya untukmu. Perasaan yang telah saya pendam sekian lama.”
“Sekian lama? Sejak kapan?”
“Saya juga tidak tahu sejak kapan. Yang jelas, perasaan yang kupunya ini mengalir begitu saja.”
“Mungkin karena saya berbeda dengan istri bapak.”
“Bukan, Mareta.”
“Lalu karena apa?”
“Karena saya merasa cocok denganmu.”
“Lho! Bukankah selama ini bapak juga sudah cocok dengan ibu.”
“Entahlah, Mareta. Susah, saya menjawabnya.”
“Saya malah tambah bingung.”
“Jangan dipikirkan, Mareta. Saya cuma ingin kamu tahu saja bahwa saya telah mencintaimu selama ini. Dan, saya siap seandainya kamu marah dengan perasaan yang saya punya untukmu. Kamu boleh memaki-maki saya, tetapi tolong pahami bahwa perasaan ini tulus untukmu.”
“Apakah karena saya cantik atau karena saya pintar?”
“Saya tidak mencintai kecantikanmu. Saya juga tidak mencintai kepintaranmu, tetapi saya mencintaimu apa adanya.”
“Benarkah?”
“Iya, Mareta. Seandainya saya mencintaimu karena kecantikan, maka saya tidak akan memilihmu karena suatu ketika kecantikanmu akan pudar. Seandainya saya mencintaimu karena kepintaranmu, maka saya tidak akan memilihmu karena suatu saat nanti kamu pasti membodohiku.”
Senyap menyapu atmosfir warung pinggir jalan tempat mereka berbincang. Mareta, gadis manis berusia menjelang tiga puluh tahun itu mengaduk es teh manis yang belum diminumnya sejak dipesan. Lelaki di depannya terlihat menghela nafas. Makanan yang telah terhidang, dingin tersapu udara. Selera makan terbang ke awang-awang.
“Pak!”
“Iya, Mareta.”
“Kita pulang saja, soalnya sebentar lagi saya mau mengajar. Sore ini, saya harus memberi les.” Mareta berdiri.
Lelaki itu membayar makanan yang belum tersentuh.
Mareta berlalu tanpa menoleh.
Seminggu menjelang, Mareta masih bergelung dalam selimut, saat subuh yang menyisakan dingin, direnggut oleh lagu Badai Pasti Berlalu di handphonenya. Malas-malasan, Mareta mengangkat.
“Hallo…! Mareta?” Suara di ujung telepon itu membuat mata Mareta terbelalak.
“Iya. Ada apa? Kok subuh-subuh begini?”
“Kangen, Mareta.”
“Oh…”
“Mareta!”
“Ya.”
“Maukah, kamu menikah denganku?”
“Lho!”
“Ini serius, Mareta.”
“Mengapa seperti ini?”
“Saya sudah tak sanggup memendam perasaan cinta ini, Mareta.”
“Katanya Bapak cuma menyampaikan perasaan ini pada saya, tanpa berusaha untuk memiliki.”
“Awalnya begitu, tetapi sekarang tidak bisa lagi.”
“Saya tak mau mengganggu keutuhan keluarga sampeyan.”
“Siapa yang mengatakan mengganggu?”
“Saya juga tak mampu menghancurkan keluarga sampeyan.”
“Saya menikah denganmu tidak akan menghancurkan keluarga saya.”
“Bagaimana mungkin?”
“Mungkin saja, Mareta.”
“Saya mau siap-siap ke kantor, nanti saja percakapan ini dilanjutkan.”
Sejenak sepi menyapa. Mareta masih memilih bergelung dalam selimut, dingin terasa hingga ke sum-sum, apalagi di luar gerimis mulai berlomba dengan hujan.
Lelaki, berusia awal empat puluhan itu masih memegang handphone yang telah menyisakan senyap. Di sampingnya, anak terkecilnya tertidur aman dalam dekapannya, sedangkan dua anak lainya tidur di kamar yang berbeda. Sementara itu, istrinya esok sudah pulang dari mengikuti pelatihan di luar pulau. Apakah karena dia sedang sendiri sehingga melarikan perasaan pada orang lain? Tetapi, tidak mungkin karena perasaannya pada Mareta telah mengecambah, seiring waktu yang telah mengenapi 13 bulan sejak mengenalnya.
Sore menjelang, di sebuah café, ditemani 2 buah jus jeruk, Mareta dan lelaki berusia awal empat puluhan itu duduk berhadapan.
“Bagaimana mungkin?” Suara Mareta memecah kesenyapan.
“Mareta, ini sudah kupikirkan.”
“Tetapi, saya tidak mau selingkuh.”
“Karena tidak mau selingkuh itulah, saya mengajakmu menikah.”
“Tidak mungkin karena istri bapak pasti tidak setuju.”
“Iya, saya tahu.”
“Kalau sudah tahu, mengapa memaksakan diri.”
“Karena saya mencintaimu.”
“Jangan menodai penikahan yang sudah terjalin selama 19 tahun ini.”
“Saya juga tidak mengerti, mengapa setelah sekian lama baru saya jatuh cinta seperti ini. Padahal, sering sekali saya bertemu dengan para wanita yang jauh lebih cantik, lebih menarik, lebih pintar darimu. Tetapi, saya tidak pernah tergiur.”
Percakapan ini terulang seperti awal cinta ini terkuak menampakkan kuasanya. Mareta berdiri meninggalkan lelaki berusia awal empat puluhan itu dengan percakapan yang menggantung, menyisakan soal tanpa jawab.
Malam menangkupkan perkasanya. Pekat. Di sebuah rumah bergaya spanyol, bercat kuning gading, bersemu hijau muda pucuk pisang, percakapan lirih terjadi ditingkahi desah gerimis menyentuh genteng merah anggur.
“Sejak kapan mencintainya?”
“Aku juga tidak tahu.”
“Mengapa? Apakah ada yang kurang dalam diri ulun sehingga Bapak mengalihkan perasaan pada orang lain?”
“Tidak. Bunda sempurna sebagai istri, sempurna sebagai ibu bagi anak-anak.”
“Lalu ada celah apa dalam diri ulun sehingga Bapak mencintainya?”
“Entahlah. Selama 19 tahun pernikahan kita, tidak pernah sekalipun aku seperti ini.”
“Begitu luar biasakah perempuan itu?”
“Tidak Bunda. Biasa saja. Dia baik pada semua orang. Supel, tidak sombong, dan terkadang kalau orang berada di dekatnya akan betah berjam-jam hanya untuk berbincang dengannya.”
“Berarti benar kalau Bapak pernah mengajak perempuan itu makan, benar juga ketika Bapak mengajaknya ikut di mobil?”
Anggukkan kepala telah memastikan segalanya.
Gerimis telah menjadi hujan. Lelaki awal empat puluhan itu memeluk istrinya. Air mata perempuan yang telah mendampinginya selama 19 tahun itu, menetes membasahi dadanya.
“Ulun mencintai Bapak dan tidak akan siap berbagi.”
Malam telah menghilangkan jelaganya. Kokok panjang ayam, telah membuat fajar menyalakan diannya. Subuh menjelang. Pertarungan hati telah terjadi. Perempuan tinggi semampai yang lebih muda setahun dari suaminya itu tahu hatinya, tahu pula hati suaminya. Dia ingin memenangkan panah amor suaminya, tetapi semenjak pujian mengalir lancar dari mulut suaminya tentang perempuan itu, dia telah kalah, tersungkur rebah, meski tak menyerah.
“Pak, ulun izinkan kalau Bapak ingin menikahinya.” Sekawanan lebah tiba-tiba serentak menyengat imaji lelaki berusia awal empat puluhan itu. Pagi mendadak berhenti.
“Benarkah?”
“Iya. Demi cinta ulun kepada Bapak, walaupun tak ingin terbagi, tetapi melihat kondisi Bapak, cinta yang selama ini ulun nikmati, telah lama pula hadir di hati perempuan itu.”
“Tetapi bagaimana dengan anak-anak?”
“Bapak masih ingat dengan anak-anak dalam kondisi seperti ini? Biarlah mereka menjadi urusan ulun”
Perempuan cantik berkulit putih itu menyimpan tangis dalam relung hatinya. Demi lelaki pujaanya, dia sanggup melakukan apapun. Apalagi, karier suami sedang berada di puncak, sebagai kepala dari sebuah instasi, dia tidak ingin karier lelaki terkasihnya jatuh hanya gara-gara selingkuh. Biarlah dihalalkan hubungan itu, walaupun hatinya terluka.
Pukul 5 sore, sepulang memberi materi pelatihan untuk guru-guru, Mareta memarkir motornya di sebuah rumah makan. Lelaki berusia awal empat puluhan, berkulit putih, tinggi mencapai 175 cm, keluar dari sebuah nissan terrano terbaru.
“Saya tidak mau menikah.” Suara Mareta terdengar getas. Pelayan yang mengantarkan makanan berlalu dengan tergesa. Tak ingin mendengar percakapan yang bukan haknya.
“Mengapa?”
“Saya tidak mau menjadi orang ketiga.”
“Kalau tidak menikah, bagaimana bentuk hubungan kita?”
“Teman. Mitra kerja.”
“Tetapi, saya tidak sanggup memendam perasaan ini Mareta.”
“Maunya?”
“Saya ingin menikah denganmu.”
“Pernahkah berpikir tentang perasaan istri Bapak? Anak-anak Bapak? Keluarga Bapak? Karier saya? Dan pandangan masyarakat terhadap istri kedua?”
“Tetapi mempunyai istri lebih dari satu, tidak diharamkan.”
“Benar, tetapi apakah persoalan akan selesai begitu saja dengan alibi tidak diharamkan?”
Lelaki berusia awal empat puluhan itu terdiam.
“Sebaiknya kita tidak usah menabur harapan dan membangun impian yang tak mungkin tergapai.”
“Kita tidak menabur impian, Mareta. Ini nyata, saya mengajakmu menikah. Istriku telah setuju.”
“Tetapi, penikahan yang melukai. Saya tidak setuju.”
“Aku memang kalah kalau berdebat denganmu, Mareta.”
“Kita tidak berdebat, cuma berusaha menyamakan pandangan bahwa akan banyak yang terluka kalau Bapak memaksakan kehendak.”
“Tetapi, bukankah kita tidak tahu jalan hidup yang telah dirancang oleh Yang Maha Menentukan?”
“Iya, tetapi mempunyai istri lebih dari satu adalah pintu darurat. Sementara itu, tak ada satu alasan pun yang membuat Bapak harus menikah lagi.”
Atmosfir udara di sekitar mereka mulai terasa memanas.
“Pernikahan selama 19 tahun, istri yang baik, anak-anak yang manis, dan ekonomi yang mapan, haruskah itu ternoda dengan pernikahan kedua hanya atas nama cinta? Ada baiknya, kita mulai bersyukur atas segala nikmat yang telah kita terima.”
“Tetapi, Mareta, bagaimana dengan perasaanku. Karena sangat susah menghilangkan dirimu dalam pikiranku.”
“Tetapi, bukan tidak mungkin?”
“Bapak bisa mengalihkan perasaan itu dengan istri bapak karena itu pasti lebih membahagiakan.”
“Lalu, bagaimana denganmu?”
“Saya? Tidak usah dipikirkan karena saya pasti sanggup melewati apapun yang ada di hadapan saya.”
“Mareta, tolong jawab dengan jujur. Apakah perasaan yang kupunya ini juga ada padamu?”
Symphoni hati berdendang sangat meriah.
“Tidak. Saya hanya menganggap Bapak mitra kerja.”
“Tetapi, mengapa selama ini sikapmu padaku menunjukkan bahwa kamu juga menyukaiku?”
“Karena saya juga tidak mungkin bersikap kasar pada orang sebaik Bapak, apalagi selama ini kita sering bersama dalam berbagai kegiatan.”
Jawaban itu membuat jejak lara tak terhapus dalam ingatan.
“Mareta! Andai ada tulisan takdir kita hidup bersama, maukah kamu menerimaku?”
“Aturan Yang Maha Atas Segalanya akan saya turuti dengan ikhlas, andai memang seperti itu jalannya. Tetapi, tolong, selama masih bisa dihindari, jangan lakukan itu, demi kebaikan kita bersama.”
Mareta berlalu. Langit senja telah membungkus kota Amuntai dalam warna-warni pelangi. Sepenggal perasaan sepi mulai membentuk harmoni indah tanpa suara. Hidup memang berliku seperti aliran air, tetapi akan selalu menemukan muaranya.
***
Amuntai, April 2009
(suatu pagi, ketika gerimis turun)

Iklan

Mei 6, 2009 - Posted by | catatan pendek |

11 Komentar »

  1. Baru tahu, begitukah jurus maut merayu cewek agar mau jadi isteri kedua. Tapi…Mareta hebat pisan oii..bisa hindari jurus maut. Cerpen ini jadi pembelajaran nih…update jurus baru biar sukses seperti air kan selalu menemukan muaranya..he..he..

    Komentar oleh Irwan Rozanie | Mei 6, 2009 | Balas

  2. Hueehhh……. sukses membaca cerpen ini. Si Bapak kayaknya ngebet banget ke Mareta nih, padahal si Ulun gak ada kurang nya kok. apa yang dipikirin si Bapak ya

    Komentar oleh Catra | Mei 26, 2009 | Balas

  3. Rumput sebelah memang selalu nampak hijau…..

    Komentar oleh prameswari | Juni 4, 2009 | Balas

    • Mbak…ya ampun…udah mau mampir ke blog aku yang acak2an…makasih..makasih…

      eh..kabarnya gimana…liburannya udah kan…kapan balik ke blognya…hehehe…tuh komentnya pada gak rela mbak ngilang…

      salam hangat…

      Komentar oleh hatmiati | Juni 6, 2009 | Balas

  4. Salam kenal Hatmi

    saya suka sekali dengan keputusan Mareta.
    Hanya perempuan yang bisa mengatakan hal begini.
    Laki-laki biasanya tidak pikir panjang.
    Meskipun mungkin luka tertoreh di hati.

    (Jujurnya mbak, saya pernah mengatakan hal itu “Saya tidak punya perasaan apa-apa padamu” pada mantan pacar saya, waktu saya tahu hubungan kita tak bisa berlanjut lagi. Sakit…. tapi itu jalan yang terbaik)

    EM

    Komentar oleh Ikkyu_san | Juni 6, 2009 | Balas

    • @ Ikkyu_san…
      sepakat Bu…memang kadang2 kita selalu dihadapkan pada pilihan yang tidak semua nyaman kita ambil. tapi itu harus kita lakukan…
      Bu…saya selalu kagum pada orang2 seperti ibu…

      @ DM…
      memang cinta kadang2 menjadi dalih untuk menjadi pembenaran…meskipun untuk itu manusia harus berjibaku dengan perasaan.

      @ Isnie…
      belum slesai ya…ibu doakan cepat selesai agar dapat segera mengabdi untuk daerah. salam buat teman-teman ya…

      Komentar oleh hatmiati | Juni 15, 2009 | Balas

  5. Begitu tulus, begitu halus. Sesuatu yang kadang kerap membuat manusia terbata-bata meski dengan nama yang selalu diagung-agungkan banyak manusia: cinta.

    Apa boleh buat, kisahnya memikat. Meski kadang secara nyata sukses membuat hati penat. Duh!

    Komentar oleh Daniel Mahendra | Juni 9, 2009 | Balas

  6. maiii…aku…. lamah lintuhut mambaca.. 😉

    Komentar oleh suhadinet | Juni 17, 2009 | Balas

    • kurang makan tuh….puasanya jangan sampe malam

      Komentar oleh hatmiati | Agustus 26, 2009 | Balas

  7. wah…salut nah sama temen satu ni bisa berkarya di saat saat sibuk menghadapi demo eh..ngomong2 person experince kah ?

    Komentar oleh putri ariani | Juni 17, 2009 | Balas

  8. duh, mareta. kalau dari awal nggak cinta, kenapa memberi harapan sehingga lelaki orang tergoda?

    ceritanya keren, hatmi. tapi frasa “lelaki awal empat puluhan” terlalu sering disebut. mungkin bisa diganti dengan deskripsi-deskripsi yang lain tentan sang lelaki.

    sip! jangan lama-lama update blognya, ya?

    Komentar oleh marshmallow | Juni 18, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: