Hatmiati's Weblog

belajar memaknai hidup melalui tulisan yang hadir selintas-selintas

Wisata Kuliner di Amuntai

Beranjangsana ke kota Amuntai tak cukup hanya dengan menikmati suasana kotanya saja. Wisata kuliner menjadi tujuan yang wajib dilakukan. Begitu masuk kota, pemandangan yang tersuguh adalah sebuah ikon kota berupa itik alabio yang badannya jauh lebih besar dari kerbau rawa. Aneh? Tidak juga. Karena sedari dulu Amuntai sudah dikenal dengan itik alabionya, sedangkan kerbau rawa dikenal di daerah Babarawa, yang disering mengadakan lomba kerbau rawa.

Amuntai, dengan ikon itik alabio, terkenal dengan itik panggang dan itik goreng, satu lagi yang terfavorit tetapi sering terlupa menyebutnya adalah belibis panggang dan belibis goreng. Lezat? Sangat luar biasa. Sekali-sekali datanglah sahabat berkunjung ke Amuntai. Setiap warung makanan, biasanya menyajikan menu itik panggang/goreng, tetapi untuk belibis jarang karena belibis termasuk burung yang sekarang agak langka (mungkin karena sering diburu dan ditangkap sementara budidayanya cukup sulit). Belibis panggang/goreng hanya ada pada warung-warung tertentu, harga perporsi bervariasi antara Rp 25.000 s.d Rp 50.000. Tetapi harga makanan itu sesuai dengan kelezatan yang akan diperoleh ketika makanan ini menyentuh lidah.

Kuliner di Amuntai juga didukung dengan masyarakatnya yang memang doyan makan di warung. Sehingga, warung-warung makanan tumbuh subur dan menjamur tanpa kehilangan pembeli.

Selain itu, Amuntai juga terkenal dengan ‘cake market’ alias pasar pasar kue/wadai. Segala macam jajanan berupa wadai tradisional ada di pasar yang buka setiap pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore ini. Mulai dari cucur, apem, bingka, sampai tapai. Bahkan ada makanan berupa alua (manisan) pepaya dan ‘kundur’ (sejenis labu putih). Alua ini bisa disimpan berbulan-bulan, biasanya ramai dipesan bila tiba musim kawin karena alua ini dapat diolah menjadi berbagai bentuk dan diletakkan berdampingan dengan kue pengantin.  Amuntai juga terkenal dengan gula-gula yang berbentuk kapal layar, itik dengan anak-anaknya, bunga, dan bentuk lainnya. Gula-gula ini juga ramai dipesan apabila tiba musim kawin, karena fungsinya sama dengan alua. Bahkan, dengan bentuk, warna yang menarik, dan rasanya yang manis legit gula-gula ini juga menjadi ciri khas yang tidak ada di daerah lain. Tertarik?

Masih tentang makanan, Amuntai juga terkenal dengan kerupuk haruan (ikan gabus), dan itik yang diawetkan berupa dendeng itik yang sangat lezat dan dapat dijadikan oleh-oleh berkunjung ke Amuntai.

Amuntai, kota kecil yang terus menggeliat dalam pembangunan. Kaya dengan makanan tetapi juga terkenal dengan industri lampit rotan dan pembuatan lemari.

Berkunjunglah, andai sempat dan punya waktu, sahabat akan menemukan nuansa yang berbeda di kota ini yang terkenal dengan kota Bertakwa.

Iklan

Desember 14, 2009 - Posted by | artikel

8 Komentar »

  1. bah ulun saumur-umur balum mancubai dendeng itik nah, kena ae mun bulik ka banjar

    Komentar oleh aditkus | Desember 14, 2009 | Balas

    • dimana gerang nyawa badiam maka kada sing bulikan??? diganang kampung…wal ae….salam mulai jauh…datang ja ka amuntai…kaena dibari dendeng itiknya…nang kada butulang lagi.

      Komentar oleh hatmiati | Desember 15, 2009 | Balas

  2. wah amuntai indah yaaa

    Komentar oleh NORSALIM,P.Hd | Januari 17, 2010 | Balas

    • indah, iya, indah sekali. kapan-kapan beranjangsanalah ke amuntai…

      Komentar oleh hatmiati | Januari 18, 2010 | Balas

  3. raja barang bue “hatmi”ne….heeeee

    sampean ada punya fb g’ bue
    by_syarif

    Komentar oleh arif | Februari 11, 2011 | Balas

  4. kaya apa mengeringkan dendeng itik kalau musim penghujan kayak wayahini,maka handak merasani nah…hehehe

    Komentar oleh Muhammad Taufik | Desember 25, 2011 | Balas

  5. ka hatmiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, uln ina lawan nya juli yang pernah nukari tas pian< ka dendeng itik rina yang dimurung sari itu tahannnya berapa hari yo ka?tlg infonya ya kaa 🙂

    Komentar oleh khairina sari | September 20, 2012 | Balas

    • sebulan d kulkas….hehehe

      Komentar oleh hatmiati | Maret 4, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: