Hatmiati's Weblog

belajar memaknai hidup melalui tulisan yang hadir selintas-selintas

ALIRAN SASTRA EKOKRITISISME

Oleh: Hatmiati

Abstrak

Tulisan ini menjelaskan tentang teori ekokritik sastra dan hubungannya dengan novel Partikel karya Dewi ‘Dee’ Lestari. Sejalan dengan hal tersebut, dijelaskan tentang ekokritik dalam sastra yang berwawasan lingkungan. Meskipun, ekokritik berwawasan lingkungan baru dalam sastra, tetapi hal tersebut ternyata bukan benar-benar hal yang baru. Jauh sebelum ekokritik diperkenalkan pada bidang sastra, para sastrawan sudah sejak lama menjadikan lingkungan sebagai salah satu sumber inspirasi dalam berkarya. Sehingga ketika ekokritik dijadikan salah satu kajian dalam bidang sastra, maka ilmu ini langsung menyatu dan memberi percerahan pada sastra. Ekologi memberikan kesadaran tentang lingkungan yang dapat dibaca semua pihak dengan bahasa yang mudah dan lebih akrab dengan pembacanya.

Kata Kunci: kritik sastra, ekokritik sastra, partikel

  1. 1.    PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewi ‘Dee’ Lestari, salah satu pengarang wanita yang cukup diperhitungkan di Indonesia, setelah novel Supernova episode pertama: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (2001) menggebrak dunia sastra Indonesia dengan ciri khas ilmu sains, maka karya Dee selanjutnya selalu ditunggu oleh penggemarnya. Episode kedua: Akar (2002), episode ketiga: Petir (2004), dan kali ini episode keempat: Partikel (2012) selalu menjadi karya best seller dari Dee. Namun, di antara Petir dan Partikel, Dee juga sempat menulis, Rectoverso (gagasan kreatif Dee dalam memadukan kisah, musik, dan ilustrasi yang sangat menarik). Perahu Kertas (sebuah Novel yang sarat dengan perjuangan dan cinta yang tidak biasa, novel ini juga telah difilmkan), Madre (kumpulan cerita yang sarat dengan perbedaan suku, budaya, sosial, hal-hal krusial lainnya tetapi dikemas dengan sangat menarik). Sitok Srengenge ketika menjadi penyunting dalam Madre, menyatakan bahwa harmoni dalam Madre adalah miniatur Indonesia yang ideal. Selanjutnya, Dee juga menulis Filosofi KOPI (kumpulan cerita dan prosa satu dekade). Goenawan Mohamad dalam sambutannya pada Filosofi KOPI, menyatakan, jika ada yang memikat pada Dee adalah cara dia bertutur: Ia peka pada ritme kalimat. Kalimatnya berhenti atau terus tidak hanya karena isinya selesai atau belum, tapi karena pada momen yang tepat ia menyentuh, mengejutkan, dan membuat kita senyum, atau memesona.

Sebagai pengarang, Dee memiliki ciri khas tersendiri. Setiap karyanya selalu memuat hal-hal menarik yang dijadikan titik tumpu cerita. Titik tumpu cerita ini bisa tentang ilmu sains ataupun alam. Pada novel Supernova episode keempat: Partikel, Dee bertumpu pada ilmu biologi yang bersandar pada alam. Cerita ini mengilhami penulis untuk mengaitkan dengan ekokritik sastra yang mulai ramai diperbincangkan dan dibahas dalam bidang sastra.

Cerita dalam novel ini membuka dimensi-dimensi lain dalam bidang kehidupan, tetapi tulisan ini memfokuskan pada ekokritik sastra karena ada banyak hal yang menurut penulis mengandung ekologi lingkungan sebagai sebuah ilmu baru dalam bidang sastra. Sebagai sebuah karya, nilai ekologi lingkungan yang terkonstruksi dalam novel ini memberikan sumbangan pemikiran dalam penggabungan sastra dan ekologi.

Novel ini juga memberikan kesadaran kepada pembaca untuk memahami lingkungan yang menjadi tempat tinggalnya sekarang. Lingkungan yang terkonstruksi dalam novel ini menjadi wadah keserakahan manusia yang justru memberi imbas yang tidak baik bagi manusia dan seluruh makhluk hidup yang menjadi bagian dari lingkungan itu sendiri. Lingkungan yang ideal harusnya menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk semua makhluk hidup yang ada di dalamnya.

Sebagai sebuah ilmu, ekokritik merupakan konsekuensi logis dari keberadaan dan keadaan lingkungan yang semakin memerlukan perhatian manusia. Ketidakseimbangan lingkungan menimbulkan berbagai permasalahan di masyarakat, mulai dari pemanasan global, pembalakkan hutan, perdagangan gelap satwa langka di pasar internasional, banjir, longsor, sampai dengan kabut asap akibat dari pembakaran hutan. Hal-hal tersebut menimbulkan keprihatinan yang berujung pada tujuan untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut demi keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk di bumi.

Alam merupakan sumberdaya yang harus dipelihara, dikelola, dan dimanfaatkan sebaik mungkin. Manusia sebagai pemakai lingkungan harus bisa memberikan kontribusi agar lingkungan yang sehat dapat dinikmati selamanya. Ekokritik memberikan ruang dan kesadaran dalam dunia sastra untuk memadukan lingkungan menjadi sesuatu yang menarik untuk dibaca dan dibahas.

Iklan

Maret 2, 2013 - Posted by | penelitian

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: